Oleh: Winbaktianur,
Penikmat wisata dan budaya, akademisi UIN Imam Bonjol
Email: winbaktianur1978@gmail.com
Menawarkan keindahan alam dan tradisi Bali yang kental. Selama liburan ke Ubud, sepertinya tidak akan ada waktu yang cukup untuk menikmati destinasi wisata yang indah dan sangat menawan. Satu di antaranya adalah Istana Air Ubud (dikenal juga dengan nama Ubud Water Palace).
Tepat pukul 19.00 WIB, melalui pintu 15 terminal 3, pesawat yang kami tumpangi lepas landas dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan perkiraaan akan mendarat di Bandara I Gusti Ngurah Rai pada pukul 21.55 WITA.
Setelah beberapa kali mengalami goncangan karena cuaca yang kurang baik, akhirnya mendarat dengan selamat. Bergegas dengan beberapa orang rekan aku menuju pintu keluar Bandara. Sebelumnya, tidak lupa memesan transportasi online menuju penginapan. Hotel yang kami pilih berlokasi di jalan Pengembak Denpasar. Hotel Bintang 3 dengan harga terjangkau bernuansa khas Bali dan layanan nan ciamik.
Setelah check-in, bergegas mengayuh sepeda yang disediakan hotel secara gratis untuk tamu yang menginap. Malam sudah larut, tujuannya adalah warung tenda berjarak sekitar 2 km. Pilihannya adalah warung khas Jawa dengan rasa yang mantap! Sepedaan tengah malam, seru juga. Kami merasakan ketenangan dan kedamaian dengan sekali-sekali berpapasan dengan pengendara lain yang didominasi wisatawan mancanegara. Hari pertama, kami masuk kamar dan tidur dengan lelap tepat pukul 01.30 WITA.
Udara segar disertai gerimis menyambut pagi. Tujuan hari ini adalah pusat seni dan budaya Bali, Ubud. Ubud selalu ramai oleh wisatawan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Menawarkan keindahan alam dan tradisi Bali yang kuat. Selama liburan ke Ubud, sepertinya tidak akan ada waktu yang cukup untuk menikmati destinasi wisata yang indah dan sangat kental nunasa Bali. Satu di antaranya adalah Istana Air Ubud (dikenal juga dengan nama Ubud Water Palace).
Istana Air Ubud berada satu Lokasi dengan Pura Taman Kemuda Saraswati, didirikan untuk Dewi Saraswati, dewi ilmu pengetahuan, dan berarti “pura dengan sumber air suci” dalam bahasa Bali. Tidak heran jika sebagian masyarakat mengenalnya dengan sebutan Pura Taman Kemuda Saraswati, didirikan oleh Tjokorda Gde Ngoerah.
Sebagai simbol kesucian dan ketenangan, kolam ini menciptakan suasana magis yang memikat. Istana ini adalah pusat spiritual dan seni Ubud selain sebagai tempat tinggal keluarga kerajaan. Di dalam kompleks istana, berbagai ritual keagamaan sering diadakan, menjadikannya tempat yang sakral bagi masyarakat setempat.
Karena pura itu hanya untuk umat Hindu, pengunjung tidak boleh masuk, berdasarkan kebijakan dari Bale Agung Ubud (Komunitas Desa Ubud). Masyarakat Hindu Bali merayakan Hari raya Saraswati yang berlangsung setiap enam bulan sekali.
Dipercaya sebagai hari turunnya ilmu pengetahuan, saat di mana seluruh umat Hindu wajib melakukan sembahyang kehadapan Hyang Aji (Dewi) Saraswati sebagai penguasa ilmu pengetahuan saat perayaan hari Saraswati. Sebagai wujud rasa syukur umat Hindu Bali dengan harapan agar senantiasa dituntun ke jalan yang benar atas ilmu pengetahuan yang diperoleh.
Untuk pengunjung yang sudah membayar tiket masuk akan mendapatkan fasilitas sarung, kimono, dan ikat kepala. Pengunjung bisa berkeliling sepuasnya. Melangkah ke areal istana, terhampar kolam dengan bunga Teratai yang indah di kanan dan kiri jalan. Perjalanan pengunjung ke area pura akan diikuti oleh pancuran air. Kolam teratai yang indah di depan Ubud Water Palace adalah daya tarik utamanya.
Puas menikmati kolam Teratai, Kami menuju Panggung utama yang menjadi tempat favorit untuk foto. Pengunjung dapat duduk dan mengambil foto di dua kursi yang dihiasi dengan ukiran khas Bali yang menyerupai raja dan ratu. Pengunjung diperbolehkan duduk dan berfoto di kursi ini, dengan latar belakang gapura (candi Bentar) khas Bali.
Tjokorda Gede Agung Sukawati, merupakan Raja yang terkenal sangat melindungi seni dan budaya Bali. Arsitektur istana ini, dengan ukiran yang rumit dan tata ruang yang mengutamakan keseimbangan antara spiritualitas Hindu dan alam, mencerminkan keindahan yang sulit untuk diungkapkan.
Pada masa kolonial Belanda, Istana Air Ubud tetap berfungsi sebagai pusat pemerintahan lokal, tetapi setelah kemerdekaan Indonesia, fungsinya mulai berubah menjadi daya tarik wisata dan pusat seni budaya. Keluarga kerajaan tetap menjaga istana sebagai tempat untuk mempertahankan tradisi dan kebiasaan Bali, seperti tarian sakral dan pertunjukan seni.
Istana ini mengalami beberapa pemugaran pada tahun 1950-an untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman, tetapi tidak menghilangkan keaslian arsitekturnya. Salah satu tokoh penting dalam restorasi ini adalah seniman Jerman Walter Spies, yang bekerja sama dengan keluarga kerajaan untuk menjaga seni dan budaya Bali. Sejak saat itu, Ubud Water Palace menjadi pusat seni dan pusat pertunjukan tari tradisional seperti Tari Legong, yang menarik banyak wisatawan.
Ubud Water Palace masih menjadi tempat wisata favorit di Bali bersantai menikmati keindahan arsitektur tradisional Bali dan pertunjukan seni khas Bali. Selain itu, pengunjung dapat menyantap hidangan khas Bali di Café Lotus yang menghadap langsung ke kolam teratai, menambah daya tarik dengan suasana tenang dan indah di pusat Ubud. Istana ini tidak hanya menjadi saksi sejarah Ubud, tetapi juga menunjukkan kemashuran warisan budaya Bali.
Sebenarnya kami ingin menyaksikan tari Legong dan Barong, namun karena kami datangnya siang dan harus menunggu hingga pukul 19.30, kami memutuskan untuk beranjak ke destinasi lain. Pertunjukan berlangsung selama sekitar satu jam, dengan harga tiket Rp 100.000 per orang dan gratis untuk anak usia di bawah 5 tahun.
Berlokasi di Jalan Kajeng, Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali. Aksesnya sangat mudan dijangkau karena dekat dengan Puri Ubud dan Pasar Seni Ubud. Ubud Water Palace buka setiap hari mulai pukul 08.00-17.30 WITA.
Pengunjung hanya dikenakan biaya masuk ke Ubud Water Palace sebesar Rp. 50 ribu untuk wisatawan mancanegara dewasa dan Rp. 35 untuk anak-anak. Wisatawan lokal cukup merogoh kocek sebesar Rp. 25 ribu untuk dewasa dan Rp. 15 ribu untuk anak-anak. Berburu oleh-oleh Ubud? Segera mampir di Pasar Seni Ubud dan Pasar Rakyat Ubud bersebelahan Ubud Water Palace.
Winbaktianur,
Penikmat wisata dan budaya, akademisi UIN Imam Bonjol
Email: winbaktianur1978@gmail.com





