Dari Pagar Sekolah ke Panggung Nasional, Kisah Rizqy Mengejar Merah Putih

Siak (Outsiders) –  Di balik langkah tegap Rizqy Aditya Siregar sebagai anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Nasional 2026, tersimpan perjalanan panjang yang dibangun sejak masa kanak-kanak. Ada disiplin, ketangguhan, olahraga, pendidikan, serta doa orang tua yang terus mengiringi langkah remaja asal Kabupaten Siak, Riau, itu.

Bagi Muhammad Isnaini Siregar dan Dina Afnita, terpilihnya putra kedua dari tiga bersaudara tersebut sebagai wakil Riau di tingkat nasional bukan sekadar prestasi. Bagi mereka, pencapaian itu menjadi jawaban dari proses panjang yang selama ini dijalani Rizqy dengan tekun.

Bacaan Lainnya

Dina masih mengingat karakter putranya sejak kecil. Di mata keluarga, Rizqy dikenal sebagai anak yang saleh, berbakti kepada orang tua, penurut, dan selalu menjaga sikap.

“Rizqy ini anak kedua dari tiga bersaudara. Kalau orang-orang terdekatnya menilai, anak ini sudah terkenal saleh, berbakti kepada orang tua, penurut, dan tidak pernah menyakiti hati orang tua,” kata Dina Afnita,  Sabtu (15/08/2026) di Media Center Riau.

Karakter tersebut, menurut Dina, menjadi modal penting ketika Rizqy mengikuti seleksi Paskibraka. Sebab, menjadi anggota Paskibraka bukan hanya tentang kemampuan fisik. Ada kedisiplinan, mental, sikap, tanggung jawab, dan kemampuan bekerja dalam tim yang harus berjalan beriringan.

Bagi seorang ibu, semua itu tidak lahir dalam semalam. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Rizqy disebut sudah menunjukkan mental yang kuat. Ia bukan anak yang mudah mengeluh ketika menghadapi keadaan yang tidak nyaman. Dina bahkan masih mengingat satu kejadian ketika Rizqy terluka saat bermain di sekolah. Tubuhnya terbentur pagar kayu, tetapi ia tidak menangis.

“Kalau untuk fisiknya, sejak dari bangku SD, Rizqy sudah menunjukkan mental yang sangat kuat dan tidak cengeng. Bahkan pernah dulu dia terluka akibat terbentur pagar kayu sekolah saat bermain, namun tidak menangis. Makanya kami yakin, anak ini bakal tumbuh hebat,” tuturnya.

Ketangguhan itu kemudian tumbuh menjadi kebiasaan. Rizqy mulai terbiasa menjaga kebugaran tubuh dan menjalani aktivitas olahraga. Sepak bola menjadi salah satu kegemarannya. Ia beberapa kali mengikuti pertandingan untuk membawa nama sekolah.

Di luar aktivitas tersebut, olahraga juga menjadi bagian dari rutinitas hariannya. Push up, pull-up, hingga jogging menjadi kebiasaan yang dilakukan untuk menjaga kondisi fisik.

“Rizqy juga aktif berolahraga, paling suka dia main bola. Beberapa kali juga ikut bertanding untuk membawa nama sekolahnya. Kalau setiap pagi itu biasanya rutin dia lakukan push up, pull-up, hingga jogging,” kata Dina.

Disiplin Rizqy tidak hanya dibentuk melalui olahraga. Ia juga aktif mengikuti kegiatan Pramuka. Dari sana, ia belajar tentang kemandirian, kepemimpinan, kerja sama, dan tanggung jawab.

Di tengah kesibukan tersebut, pendidikan tetap menjadi perhatian. Bagi keluarga, prestasi akademik harus berjalan bersama dengan aktivitas fisik dan organisasi.

“Selain olahraga, dia juga aktif mengikuti kegiatan Pramuka. Pada bidang pendidikan, Alhamdulillah Rizqy punya nilai yang membanggakan,” ujarnya.

Dina dan Muhammad Isnaini juga berusaha menjaga pola hidup putranya sejak kecil. Asupan makanan menjadi perhatian keluarga agar Rizqy tetap memiliki kondisi fisik dan konsentrasi yang baik.

“Dari kecil saya selalu menjaga pola makan sehat. Sampai saat ini saja dia masih rutin minum susu, makan sayur, dan buah. Karena kami sadar tanggung jawab perhatian tentu harus dibiasakan untuk dia, sebab ini juga berguna baginya,” terang Dina.

Namun, tidak pernah ada dalam bayangan keluarga bahwa kebiasaan-kebiasaan sederhana itu kelak membawa Rizqy sampai ke panggung nasional.

Perjalanan itu bermula ketika Rizqy duduk di kelas 10 SMA. Saat itu, ia hanya menyampaikan keinginannya untuk mengikuti seleksi Paskibraka tingkat kabupaten. Tidak lebih. Tidak ada target besar yang sejak awal dibebankan keluarga. Rizqy hanya mencoba mengikuti proses dan memberikan kemampuan terbaiknya.

“Seleksi awal dimulai saat Rizqy duduk di kelas 10 SMA. Awalnya dia memberi tahu kami untuk ikut tes Paskibra tingkat kabupaten, ternyata seleksinya terus berlanjut sampai tingkat nasional,” kata Dina.

Ketika berhasil melewati seleksi tingkat kabupaten, keluarga sudah merasa sangat bersyukur. Bagi mereka, pencapaian tersebut sudah menjadi prestasi besar.

Tetapi perjalanan Rizqy belum selesai. Ia kemudian melewati tahapan seleksi di tingkat provinsi hingga akhirnya memperoleh kesempatan mengikuti proses verifikasi di tingkat pusat. Dari sebuah keinginan sederhana seorang anak SMA, langkah Rizqy perlahan berubah menjadi perjalanan menuju panggung nasional.

“Waktu lulus di kabupaten saja kami sudah sangat bersyukur. Rupanya ada jenjang ke provinsi, hingga akhirnya dapat undangan verifikasi ke tingkat pusat. Kami tidak menyangka sama sekali, semua karena kemudahan dari Allah,” ujar Dina dengan nada haru.

Di titik itulah keluarga semakin menyadari bahwa keberhasilan Rizqy bukan hasil dari satu latihan atau satu seleksi. Ada kebiasaan baik yang dibangun sejak kecil, ada disiplin yang dijalankan setiap hari, ada keberanian menghadapi tantangan, dan ada dukungan keluarga yang tidak pernah terputus.

Bagi Dina, perjalanan putranya juga menjadi pelajaran bahwa pencapaian besar kerap dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.

“Saya yakin berkat ketekunan, sungguh-sungguh, dan doa jalur langit, Rizqy berhasil lolos terpilih mewakili Riau ke tingkat nasional,” katanya.

Kini, nama Rizqy Aditya Siregar menjadi bagian dari barisan Paskibraka Nasional 2026. Langkahnya tidak lagi hanya membawa nama keluarga dan Kabupaten Siak, tetapi juga Provinsi Riau.

Namun, bagi sang ibu, pencapaian tersebut bukan garis akhir. Dina justru berharap pengalaman menjadi Paskibraka Nasional menjadi bekal bagi putranya untuk menatap cita-cita yang lebih besar.

“Semoga pencapaian sebagai Paskibraka Nasional ini dapat menjadi jalan terbaik untuk menggapai cita-citanya sebagai Tentara,” harapnya.

Dari seorang anak yang dahulu jatuh dan terluka di pagar sekolah tanpa menangis, Rizqy kini berdiri tegap di panggung nasional. Perjalanannya menunjukkan bahwa ketangguhan tidak selalu lahir dari sesuatu yang besar. Kadang, ia tumbuh dari kebiasaan sederhana, bangun pagi, berolahraga, belajar, berorganisasi, menghormati orang tua, lalu terus mencoba ketika kesempatan datang. Dan di belakang langkah tegap itu, selalu ada doa seorang ibu.

Pos terkait