Rabu pagi, 22 Juli 2026, Brigjen TNI (Purn) Edy Afrizal Natar Nasution berdiri di antara ratusan orang tua di halaman Istana Merdeka. Ketika Presiden Prabowo Subianto melantik putra ketiganya sebagai Letnan Dua TNI AD, yang terlintas di benaknya bukanlah pangkat di pundak sang anak, melainkan perjalanan panjang yang pernah dimulai dari seorang pemuda yang hanya sanggup melakukan satu kali pull up.
Di balik senyum yang mengembang, tersimpan perjalanan panjang seorang ayah yang selama bertahun-tahun mendampingi putranya mengejar cita-cita mengenakan seragam hijau kebanggaan TNI AD. Bagi Edy, pelantikan itu bukan sekadar seremoni kenegaraan, melainkan puncak dari perjuangan yang dibangun dengan disiplin, pengorbanan, dan doa.
Nama Brigjen TNI (Purn) Edy Afrizal Natar Nasution bukanlah sosok asing di Riau. Selain memiliki karier panjang di lingkungan TNI Angkatan Darat, ia juga pernah dipercaya menjabat Wakil Gubernur Riau mendampingi Gubernur Syamsuar pada periode 2019 hingga 2023. Setelah masa jabatan gubernur berakhir, Edy kemudian mengemban amanah sebagai Pelaksana Tugas Gubernur Riau, sebelum menjabat Gubernur Riau sejak 27 November 2023 hingga 20 Februari 2024.
Namun, di hadapan putranya, semua jabatan itu seolah tidak berarti. Yang ingin ia wariskan bukan kekuasaan ataupun nama besar, melainkan nilai-nilai kehidupan tentang kerja keras dan integritas.
“Saya ingin masyarakat memahami bahwa menjadi taruna Akademi Militer bukan perkara mudah,” ujarnya.
Menurut Edy, masih banyak anggapan bahwa anak seorang jenderal memiliki peluang lebih besar untuk lolos seleksi Akmil. Padahal kenyataannya, banyak pula anak para perwira tinggi yang gagal karena tidak memenuhi standar yang telah ditetapkan.
Seleksi Akademi Militer dilakukan secara berlapis, mulai dari administrasi, kesehatan, akademik, kesamaptaan jasmani, psikologi hingga mental ideologi. Semua peserta harus melalui proses yang sama tanpa membedakan latar belakang keluarga.
Karena itulah, ketika Surya bercita-cita menjadi taruna, Edy memilih mempersiapkan putranya seperti peserta lainnya. Selama enam bulan, Surya dibina oleh para pelatih jasmani di Korem 031/Wira Bima. Latihan yang dijalani berlangsung keras dan disiplin. Hasilnya sangat signifikan.
Berat badannya turun hingga 15 kilogram. Kemampuan pull up yang semula hanya satu kali meningkat menjadi 14 kali.
Tak berhenti di situ, Surya juga harus menjalani operasi varikokel untuk memenuhi persyaratan kesehatan. Setelah pulih, ia mengikuti bimbingan psikologi selama satu bulan di Cijantung, Jakarta.
Usaha tersebut akhirnya membuahkan hasil. Surya diterima sebagai Taruna Akademi Militer Magelang dan menuntaskan pendidikannya hingga resmi dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai Letnan Dua Corps Polisi Militer TNI AD.
Bagi Edy, kebahagiaan terbesar bukanlah melihat pangkat yang kini melekat di pundak putranya. Ia berharap Surya kelak menjadi perwira yang saleh, rendah hati, mencintai rakyat, menghormati kedua orang tua, serta setia mengabdi kepada bangsa dan negara.
Lebih jauh, ia berharap putranya mampu melampaui pencapaiannya sendiri. “Kalau bisa, prestasinya harus lebih baik daripada ayahnya,” katanya.
Pesan itu tidak hanya sekadar harapan seorang mantan jenderal ataupun mantan kepala daerah. Itu adalah doa seorang ayah yang percaya bahwa kesuksesan seorang anak tidak diwariskan melalui jabatan, melainkan dibangun melalui disiplin, ketekunan, keberanian memperbaiki setiap kekurangan, dan keyakinan bahwa setiap ikhtiar akan menemukan jalannya.
Hari itu, di halaman Istana Merdeka, Surya memang mengucapkan sumpah sebagai perwira TNI. Namun pada saat yang sama, seorang ayah juga memetik hasil dari perjuangan yang telah ia tanam selama bertahun-tahun. Sebuah pelajaran sederhana bahwa di balik setiap perwira yang berdiri tegak, selalu ada keluarga yang diam-diam berjuang agar mimpi itu menjadi kenyataan.





