Pagi begitu semilir ketika orang-orang mulai bergerak di sepanjang Pantai Padang. Menikmati berjalan kaki atau jogging bersama teman-teman sambil melihat pemandangan laut yang selalu menakjubkan. Kota Padang merupakan ibukota Provinsi Sumatera Barat yang terletak di pesisir barat Pulau Sumatera. Padang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Lautnya begitu luas seperti tak berbatas, ombaknya terkadang sangat gemuruh memukau.
Padang (Outsiders) – Pagi bagi para pejalan kaki dan para penikmat olah raga jogging di Pantai Padang adalah hari yang senantiasa menyenangkan, berkeringat mencari sehat. Tetapi pagi bagi para nelayan di pantai Padang adalah berkeringat mencari rezeki, menarik pukat bersama-sama melawan kuatnya arus gelombang laut yang bergemuruh.
Di bibir pantai, beberapa orang laki-laki yang kebanyakan tidak lagi muda, dengan otot-ototnya yang berkilat karena peluh dan matahari. Mereka melilitkan sarung ke pinggang, kemudian ujung kain sarung dililitkan ke tangan. Kain ini dijadikan pelapis untuk menarik tali tambang, yang terhubung ke jaring besar yang berada di tengah lautan yang jauh. Mereka bersama-sama menarik tali tambang itu dari dua sisi yang seimbang, empat orang di sisi kanan kemudian dengan jarak sekitar lima puluh meter ada empat orang lagi menarik ujung tambang yang lainnya.

Sementara posisi jaring yang terentang di tengah lautan lepas itu sangatlah jauh hingga ratusan meter. Jumlah lelaki penarik jaring itu tergantung besar dan luas jaring yang mereka lepaskan di laut. Bila jaringnya lebih besar lagi, bisa saja membutuhkan enam belas orang untuk menariknya ke darat, delapan di kanan dan delapan di kiri.
Proses menarik jaring yang disebut Maelo Pukek (Menarik Pukat) oleh masyarakat di sana bisa berlangsung sampai satu jam. Semakin besar jaring atau pukek yang dibentang, semakin lama proses penarikannya hingga ke pantai.
Pak Majid (65 tahun) dan beberapa rekannya sesama nelayan pukat bercerita tentang kerasnya hidup menjaring rezeki di Pantai Padang, lebih tepatnya di Pantai Purus, nama lokasi tempat mereka “Maelo Pukek” dan berdomisili. Hasil yang didapat dari Maelo Pukek tidak selalu pasti. Bila sedang banyak maka bisa mendapatkan hasil sekitar enam ratus ribu sehari. Dari enam ratus ribu itu, saparuhnya untuk pemilik pukat, artinya 50 persennya.
Separuh penghasilan lainnya menjadi milik para penarik pukat yang dibagi sama rata sebanyak berapa orang mereka yang terlibat. Jika delapan orang, maka separuh uang hasil penjualan ikan yang didapat pagi itu dibagi delapan. Rata-rata mereka mendapatkan penghasilan sekitar Rp. 40.000 setiap paginya. Namun tidak jarang pula zonk, alias tidak mendapatkan ikan yang bisa dijual.
Hal seperti itu biasa terjadi, semuanya disyukuri saja, “Alhamdulillah berapapun rezeki yang ada, disyukuri saja,” kata Majid dengan senyum sumringah. Di wajah para nelayan itu terpancar rasa gembira meski peluh dan air laut sudah bercampur membasahi tubuh mereka. Mungkin itulah bentuk bersyukur.

Sementara orang-orang mulai berkumpul dan mendekat begitu pukat mulai menyentuh bibir pantai. Kecipak ikan-ikan dan udang segar yang terbawa dalam jaring itu segera menjadi rebutan warga yang ingin membeli ikan segar. Relatif murah, dengan Rp.20.000 sudah bisa mendapat satu kantong ikan tergantung jenis yang ada.
Jadi, bila jalan-jalan ke kota Padang, dan ingin mendapatkan ikan yang benar-benar masih segar dan hidup, datanglah ke Pantai Purus, tepatnya di dekat gerbang bertuliskan Kampung Elo Pukek. Sabarlah menunggu para nelayan selesai Maelo Pukek mereka hingga ke darat, sekitar jam sembilan pagi, lalu ikut berkerumun saat jaring mereka buka.
Namun bila tidak mendapatkan kesempatan itu, masih bisa membeli ikan di kios-kios pinggir pantai di Kampung Elo Pukek tersebut. Di pasar tersebut harga ikan relatif sama dengan di pasar umum.
Kegiatan nelayan itu kerap juga ditinjau oleh Bintara Pembina Potensi Maritim (Babinpotmar) yang bertugas di kawasan Pantai Padang. Seperti hari itu, Rabu 31 Juli 2024, Babinpotmar Agus Riwandi menyaksikan dari dekat dan berkeliling melihat kegiatan para nelayan dan masyarakat yang begitu sibuk pagi itu, memastikan kegiatan masyarakat berjalan lancar dan aman.
Iya, ada rumor mengatakan bahwa masyarakat pantai Padang terkenal kasar dan tidak ramah, banyak premannya. Tetapi sepertinya hal tersebut tidak terlihat pagi itu. Para nelayan begitu ramah, para pedagang ikan sangat baik tuturnya. Apalagi ada Babinpotmar yang berkeliling sehingga sungguh rasa aman sangat tercipta dan jauh dari was-was seperti yang banyak didengar. Semoga saja keadaan tersebut selalu terjaga dan berkunjung ke Pantai Padang akan selalu menyenangkan dan mengesankan. (Cendra)





