“Gas Cari Angin” dari Tanjung Balai ke Tanah Suci

Sandy Arif Aritonang, Youtuber asal Tanjung Balai, Sumatera Utara, berpetualang selama enam bulan melintasi belahan dunia menuju kota suci Mekkah (Dok. Sandy)

Dalam balutan semangat petualangan dan niat ibadah, Sandy Arif Aritonang, kreator konten di balik Kanal Youtube “Gas Cari Angin”, menapaki perjalanan panjang menuju Tanah Suci. Dengan hanya mengandalkan sepeda motor dan semangat “gas terus walau angin kencang”, ia melewati berbagai negara, budaya, dan tantangan, hingga tiba di Mekah.

Pekanbaru (Outsiders) – Dari Tanjung Balai, Sumatera Utara, perjalanan dimulai ke wilayah Asia Tenggara via Malaysia. Sandy melintasi jalur darat yang penuh tikungan dan tanjakan di Thailand utara, menuju Laos, negara yang dikenal dengan jalur sunyinya dan keterbatasan akses logistik.

Bacaan Lainnya
Terjebak enam hari di Laos saat menuju Cina karena jalan putus akibat banjir dan longsor di perbatasan (Dok. Sandy)

Di sana, ia menghadapi realita kehidupan di jalanan asing, jalanan rusak, kota-kota sepi, serta keterbatasan sinyal dan bahan bakar. Namun semua itu dihadapi dengan tenang, dibalut gaya khasnya yang ringan dan penuh canda.

Kuil Zhiszhu, Tibet (Dok. Sandy

Banyak pengalaman terekam sebagai memori kehidupan Sandy. salah satunnya saat ia mengalami Hipoksia ketika berada di Kuil Zhizhu, Tibet hingga menyebabkan harus mendapatkan perawatan khusus dengan terapi oksigen. Hipoksia adalah kondisi rendahnya kadar oksigen di dalam sel-sel tubuh. Akibatnya, sel-sel di seluruh bagian tubuh tidak dapat berfungsi dengan normal.

Sandy mengalami hipoksia karena berada di ketinggian 5.000 mdpl, udara tipis menyebabkannya susah bernafas, “Setiap bernapas seperti ditusuk jarum,” ujarnya.

Sandy saat mengalami hypoxia di Tibet (dok. Sandy)

“Tapi di saat aku mau nyerah, ada tangan-tangan yang gak tinggalin aku. Teman-teman yang jagain aku kayak keluarga sendiri,” ungkap Sandy.

Namun ia tidak pasarah begitu saja menghadapi rasa ketakutan mendalam tersebut, Sandy mencoba sekuat tenaga menghdapinya dan ia sadar bila rasa takut adalah manusia. “Dari sini aku belajar, rasa takut itu manusiawi. Dan cara ngelawannya cuma satu, hadapi selagi masih bisa,” ungkapnya lagi

Sandy tak hanya menampilkan pemandangan alam yang memesona, namun juga sisi spiritual mendalam. Setiap azan yang berkumandang di sela-sela perjalanannya, setiap perbatasan yang ia lewati, terasa seperti tahapan menuju titik penting dalam hidupnya,  sujud di depan Ka’bah dengan sepenuh hati.

Berhenti sejenak menikmati Danau Atabad, Pakistan. (dok. Sandy)

Kecemasan mendalam adalah ketika ia mulai menjejakkan roda “Si Gembung”, demikian Sandy menamai sepeda motornya, di tanah Pakistan. Wajah- wajah berpostur tinggi dengan senjata lengkap terlihat berkeliaran dengan tatapan penuh curiga saat memasuki kota Peshawar, salah satu kota tertua di sana.

Kecemasan seketika sirna setelah tahu bahwa penduduk Peshawar,  yang hampir seluruhnya berasal dari suku Pastun, ternyata sangat ramah. Bahkan Sandy merasa ia dilayani seperti raja, terutama saat dijamu makan oleh penduduk setempat.

Masuk Afghanistan, Sandy mulai terbiasa dengan suasana “pasukan bersenjata” meski masih menyimpan rasa khawatir mendalam. Ia bahkan mendapatkan kemudahan melintasi negara tersebut. Hanya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai tiket melintas dan pelukan sesama muslim dari petugas Taliban, Sandy bebas ngegas si Gembung melanjutkan perjalanan.

Dari Afghanistam, Ia kemudian melanjutkan perjalanan menuju Iran untuk kemudian meneruskan ke Dubai hingga tiba di Riyadh dan seterusnya menuju Madinah dan Mekah.

Kenangan di Kota Tua Lijiang, Cina (dok. Sandy)

Setelah ribuan kilometer menyusuri jalanan lintas negara selama 6 bulan, akhirnya ia tiba di Kota Suci Mekah. Momen itu bukan sekadar akhir perjalanan fisik, tetapi juga simbol pencapaian spiritual.

Di mekah, Ia kembali berkumpul dengan istri dan  ibunya yang telah berangkat duluan dari tanah air.

Sandy memasuki Masjidil Haram di bulan Januari 2025. Ia mencatatkan kehadirannya bukan hanya sebagai pelancong atau pembuat konten, tetapi sebagai pribadi yang telah melalui banyak ujian dan akhirnya sampai di tempat yang dirindukan jutaan umat Islam di seluruh dunia.

Perjalanan Sandy lebih lengkap dapat ditonton melalui kanal Youtube  https://www.youtube.com/@gascariangin

 

 

Pos terkait