Pekanbaru (Outsiders) – Kucing dikenal sebagai hewan yang mandiri. Sebagian bahkan lebih suka tidur sendiri, menjauh ketika dipanggil, atau hanya datang kepada pemilik saat membutuhkan sesuatu.
Karena itu, perubahan perilaku yang tiba-tiba bisa membuat pemilik bertanya-tanya. Salah satunya ketika kucing yang biasanya cuek mendadak menjadi sangat manja saat sedang sakit.
Ia mulai mengikuti pemilik ke berbagai ruangan, tidur di samping, meminta dielus, lebih sering mengeong, atau terus mencari kontak fisik.
Bagi pencinta kucing, perilaku seperti ini memang terasa menggemaskan. Namun, di baliknya ada penjelasan ilmiah yang menarik. Kucing yang mendadak manja ketika sakit belum tentu sedang mencari perhatian. Bisa jadi, ia sedang mencari rasa aman.
Sakit membuat perilaku kucing berubah
Kucing memiliki kemampuan luar biasa untuk menyembunyikan rasa sakit. Di alam liar, menunjukkan kelemahan dapat membuat seekor hewan lebih rentan terhadap ancaman. Karena itu, kucing sering tidak memperlihatkan rasa sakit secara terang-terangan.
Alih-alih menangis atau mengeluh seperti manusia, kucing dapat menunjukkan perubahan melalui perilaku.
Penelitian terhadap kucing dengan nyeri kronis akibat gangguan muskuloskeletal menemukan perubahan pada aktivitas, mobilitas, perilaku merawat tubuh, dan temperamen. Ketika rasa nyeri ditangani, sejumlah perubahan perilaku tersebut ikut berkurang.
Temuan ini menunjukkan bahwa perubahan perilaku dapat menjadi salah satu petunjuk penting untuk mengenali kondisi kesehatan kucing.
Jadi, ketika kucing tiba-tiba lebih banyak tidur, tidak lagi bermain, menjadi lebih pendiam, atau justru semakin dekat dengan pemilik, perubahan tersebut layak diperhatikan.
Mengapa justru mencari pemilik?
Ketika tubuh terasa tidak nyaman, kucing dapat mencari lingkungan yang familiar dan dianggap aman.
Hubungan yang telah terbentuk antara kucing dan pemilik berperan dalam situasi seperti ini. Suara, aroma, sentuhan, dan kehadiran orang yang sudah dikenalnya merupakan bagian dari lingkungan yang familiar bagi kucing.
Dalam penelitian mengenai hubungan kucing dan manusia, sejumlah kucing menunjukkan kecenderungan mempertahankan kedekatan dengan manusia yang dikenalnya ketika berada dalam situasi yang membuat mereka tidak nyaman.
Inilah yang dapat menjelaskan mengapa sebagian kucing sakit justru semakin dekat dengan pemiliknya.
Kucing mungkin memilih duduk di samping pemilik, tidur di pangkuan, mengikuti ke mana pemilik pergi, atau meminta dielus.
Bukan berarti kucing memahami konsep “saya sedang sakit dan membutuhkan perhatian”. Respons tersebut lebih mungkin berkaitan dengan rasa tidak nyaman dan kebutuhan mendapatkan lingkungan yang terasa aman.
Tidak semua kucing akan menjadi manja
Menariknya, sakit tidak selalu membuat kucing semakin dekat dengan manusia.
Sebagian kucing justru melakukan kebalikan. Mereka bersembunyi, menjauh, tidak mau disentuh, atau menjadi lebih agresif.
Pedoman penilaian nyeri pada kucing mencatat berbagai perubahan yang dapat muncul ketika kucing mengalami rasa sakit. Beberapa di antaranya adalah berkurangnya aktivitas, perubahan posisi tubuh, kepala lebih rendah, mata menyipit, perubahan cara berjalan, serta keengganan bergerak.
Karena itu, pemilik sebaiknya tidak menggunakan “manja” sebagai satu-satunya indikator kondisi kucing.
Kuncinya adalah perubahan dari kebiasaan normal.
Jika kucing biasanya aktif tetapi mendadak lebih banyak tidur, jika biasanya ramah tetapi tiba-tiba menghindari sentuhan, atau jika biasanya cuek tetapi tiba-tiba tidak mau lepas dari pemilik, perubahan tersebut patut dicermati.
Perhatikan tanda-tanda lainnya
Kucing yang tiba-tiba menjadi manja perlu diamati terutama jika perubahan tersebut muncul bersamaan dengan gejala lain.
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:
- Nafsu makan berkurang atau tidak mau makan.
- Minum lebih banyak atau lebih sedikit dari biasanya.
- Muntah atau diare.
- Lebih sering bersembunyi.
- Tidak mau bermain.
- Kesulitan berjalan atau melompat.
- Mengeong dengan pola yang berbeda.
- Menolak ketika bagian tubuh tertentu disentuh.
- Perubahan kebiasaan buang air.
- Grooming berkurang atau justru berlebihan.
- Tampak lemas atau tidak bersemangat.
Satu perubahan belum tentu berarti kucing sedang sakit. Namun, beberapa perubahan yang muncul bersamaan merupakan alasan yang cukup untuk meningkatkan kewaspadaan.
Boleh dimanja, tetapi jangan dipaksa
Jika kucing datang dan mencari perhatian ketika sedang tidak sehat, pemilik boleh memberikan kenyamanan.
Elus perlahan jika kucing menyukainya. Biarkan ia tidur di dekat pemilik. Sediakan tempat yang tenang dan nyaman. Pastikan air minum mudah dijangkau.
Namun, jangan memaksa kucing untuk digendong atau dipeluk.
Kucing yang sedang kesakitan bisa menjadi lebih sensitif terhadap sentuhan. Jika ia menjauh, mendesis, menggeram, atau menunjukkan ketidaknyamanan, berikan ruang.
Perhatian terbaik bukan selalu berupa pelukan.
Terkadang, membiarkan kucing beristirahat dengan tenang justru merupakan bentuk kasih sayang yang paling tepat.
Jangan terkecoh oleh wajahnya yang tetap tenang
Salah satu hal yang membuat kondisi kucing sulit dikenali adalah kemampuannya menyamarkan rasa sakit.
Kucing bisa tetap terlihat tenang meskipun sebenarnya mengalami masalah kesehatan. Karena itu, pemilik perlu mengenali perilaku normal kucing masing-masing.
Berapa lama biasanya ia tidur? Seberapa sering makan? Seberapa aktif bermain? Apakah ia biasa mengikuti pemilik atau justru lebih suka menyendiri?
Dengan mengenali kebiasaan sehari-hari, perubahan kecil akan lebih mudah terlihat.
Dan di sinilah pentingnya menjadi cat’s lover yang benar-benar memahami bahasa tubuh kucing.
Kucing tidak bisa mengatakan, “Saya sedang sakit.”
Namun, mereka bisa mengatakannya melalui perubahan perilaku.
Ketika kucing yang biasanya cuek tiba-tiba berubah menjadi sangat manja, nikmati kedekatan itu, tetapi jangan abaikan pesannya. Bisa jadi, di balik sikap manjanya, ada tubuh yang sedang meminta pertolongan.





