Pekanbaru (Outsiders) – Kualitas udara di Kota Pekanbaru masih berada dalam kondisi mengkhawatirkan pada Rabu (26/8/2026) siang. Meski angka konsentrasi partikulat halus PM2.5 yang ditampilkan tiga platform pemantauan berbeda cukup bervariasi, seluruhnya menunjukkan satu kesimpulan: polusi udara di ibu kota Provinsi Riau masih berada pada level tidak sehat.
Berdasarkan data yang dihimpun pada pukul 14.00 WIB, konsentrasi PM2.5 di Pekanbaru menurut IQAir mencapai 83,6 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Sementara pemantauan AQICN menunjukkan angka lebih tinggi, yakni 166 µg/m³, sedangkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat konsentrasi PM2.5 sebesar 85,9 µg/m³.
Data BMKG sendiri menempatkan konsentrasi PM2.5 Pekanbaru dalam kategori tidak sehat. BMKG mencatat nilai 85,9 µg/m³ pada pemantauan pukul 13.00 WIB, dengan PM2.5 sebagai salah satu indikator utama kualitas udara.
Perbedaan angka antarlembaga atau platform pemantauan bukan berarti kondisi udara menunjukkan situasi yang saling bertentangan. Perbedaan dapat terjadi karena setiap platform menggunakan titik pemantauan, metode pengolahan data, waktu pembaruan, dan sistem indeks yang berbeda.
Yang patut menjadi perhatian, IQAir dan BMKG sama-sama mencatat konsentrasi PM2.5 di atas 80 µg/m³. Sementara AQICN menampilkan angka 166 dengan kategori tidak sehat pada pembaruan pukul 14.00 WIB. AQICN juga mencantumkan data kualitas udara Pekanbaru berasal dari jaringan pemantauan BMKG.
PM2.5 Dominasi Polusi Udara
PM2.5 merupakan partikel sangat halus dengan ukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Karena ukurannya yang sangat kecil, partikel ini dapat bertahan di udara dan mudah terhirup ke dalam sistem pernapasan.
Dalam kondisi Pekanbaru saat ini, PM2.5 menjadi polutan utama yang mendominasi penurunan kualitas udara. Konsentrasi tinggi yang tercatat secara bersamaan di tiga sumber pemantauan memperlihatkan bahwa persoalan polusi tidak hanya muncul pada satu titik pengukuran.
BMKG mengategorikan kondisi ekstrem kualitas udara sebagai situasi ketika PM2.5 telah berada pada level tidak sehat, sangat tidak sehat, hingga berbahaya.
Selisih Angka Lebar, Ancaman Tetap Nyata
Perbedaan paling mencolok terlihat antara data AQICN yang mencapai 166 µg/m³ dengan IQAir dan BMKG yang berada di kisaran 83,6 hingga 85,9 µg/m³.
Namun, dua angka yang hampir berdekatan antara IQAir dan BMKG dapat menjadi gambaran bahwa konsentrasi PM2.5 di sebagian wilayah Pekanbaru memang masih tinggi. Sementara angka lebih tinggi dari AQICN menunjukkan adanya kemungkinan perbedaan kondisi pada titik pemantauan tertentu atau perbedaan sistem penyajian data.
Dengan kata lain, angka yang berbeda tidak otomatis membuat salah satu data harus diabaikan. Justru perbedaan tersebut menunjukkan kualitas udara dapat berubah secara cepat dan tidak selalu seragam di seluruh wilayah kota.
Sebelumnya, kualitas udara Pekanbaru juga mengalami tekanan dalam beberapa hari terakhir. Pada Selasa (25/8/2026), laporan pemantauan menunjukkan kualitas udara kota ini sempat berada pada kondisi yang lebih buruk.
Warga Perlu Waspada
Kondisi ini menjadi sinyal bagi masyarakat untuk lebih memperhatikan aktivitas di luar ruangan, terutama kelompok yang sensitif terhadap polusi udara.
Anak-anak, lansia, serta warga yang memiliki sensitivitas terhadap gangguan pernapasan perlu mengurangi paparan udara luar ketika kondisi polusi meningkat. Penggunaan masker yang sesuai dan membatasi aktivitas fisik berat di luar ruangan dapat menjadi langkah pencegahan selama kualitas udara belum membaik.
Pemantauan kualitas udara juga perlu dilakukan secara berkala karena konsentrasi PM2.5 dapat berubah mengikuti kondisi cuaca, arah angin, sumber emisi dan sebaran asap.
Pantau terus dan bandingkan secara akurat kualita udara melalui link BMKG, Air Quality Index atau IQAir





