Pekanbaru (Outsiders) – Kota Pekanbaru belum sepenuhnya terbebas dari persoalan kualitas udara. Pada Selasa (25/8/2026) siang, konsentrasi partikel halus PM2.5 masih terpantau tinggi, meski angkanya telah turun dibandingkan kondisi pada dini hari.
Pemantauan pada pukul 12.00 WIB menunjukkan perbedaan angka di sejumlah platform. AQICN mencatat konsentrasi PM2.5 sebesar 158 µg/m³, IQAir mencatat 107,2 µg/m³, sedangkan data BMKG berada di angka 76 µg/m³.
Perbedaan angka tersebut berkaitan dengan lokasi sensor, waktu pembaruan dan metode pengukuran yang digunakan masing-masing platform. Namun, ketiganya memperlihatkan satu gambaran yang sama, yakni kualitas udara Pekanbaru masih menghadapi tekanan akibat tingginya konsentrasi partikel halus.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang dapat terhirup hingga masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Konsentrasi tinggi dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan.
Situasi udara Pekanbaru bahkan sempat jauh lebih buruk pada dini hari. Berdasarkan pemantauan BMKG, konsentrasi PM2.5 sekitar pukul 01.00 WIB mencapai 508,8 µg/m³. Angka tersebut kemudian turun menjadi 420,1 µg/m³ pada pukul 03.00 WIB, sebelum kembali menurun memasuki pagi hingga siang hari.
Penurunan konsentrasi tersebut belum berarti persoalan selesai. Angka 158 µg/m³ yang tercatat AQICN pada tengah hari masih menunjukkan tingginya paparan partikel halus di udara Pekanbaru.
Kondisi ini berlangsung di tengah masih terdeteksinya titik panas di sejumlah wilayah Riau. Aktivitas kebakaran hutan dan lahan menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai karena asap hasil pembakaran dapat membawa partikel halus ke wilayah permukiman, tergantung kondisi angin dan atmosfer.
Bagi warga Pekanbaru, kondisi tersebut membuat kualitas udara perlu dipantau secara berkala, terutama sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia dan masyarakat dengan sensitivitas terhadap polusi udara perlu mendapat perhatian lebih.
Masyarakat juga dapat mengurangi paparan dengan membatasi aktivitas fisik berat di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, menggunakan masker yang mampu menyaring partikel halus serta memastikan sirkulasi udara di dalam rumah tetap terkelola dengan baik.
Perbedaan angka antara AQICN, BMKG dan IQAir juga menunjukkan pentingnya melihat tren kualitas udara, bukan hanya satu angka dari satu platform. Perubahan konsentrasi PM2.5 dapat terjadi cepat karena dipengaruhi arah angin, kondisi atmosfer, hujan dan sumber emisi.
Dengan PM2.5 yang masih berada pada level tinggi pada Selasa siang, Pekanbaru belum sepenuhnya bisa bernapas lega. Penurunan angka dari kondisi ekstrem pada dini hari menjadi kabar baik, tetapi kualitas udara masih perlu diwaspadai hingga kondisi benar-benar membaik.
Pantau terus dan bandingkan secara akurat kualita udara melalui link BMKG, Air Quality Index atau IQAir





