Kapuas Hulu (Outsiders) – Aktivitas ekspor melalui Pos Lintas Batas Negara Badau di wilayah perbatasan Indonesia dan Malaysia menunjukkan tren peningkatan signifikan dalam dua tahun terakhir. Hal ini menjadi sorotan dalam kunjungan kerja Konsul Jenderal RI di Kuching, Abdullah Zulkifli, ke kawasan perbatasan tersebut.
Dalam kunjungannya, Abdullah Zulkifli meninjau langsung aktivitas perdagangan lintas batas di Pos Lintas Batas Negara Badau yang menjadi salah satu pintu utama ekspor komoditas dari wilayah perbatasan menuju Sarawak, Malaysia.
Ia menegaskan bahwa kerja sama ekonomi antara kedua negara di kawasan perbatasan perlu terus diperkuat, terutama dalam mendorong peningkatan ekspor produk unggulan daerah.
Menurutnya, keberadaan fasilitas PLBN tidak hanya berfungsi sebagai jalur keluar masuk orang dan barang, tetapi juga memiliki peran strategis sebagai gerbang perdagangan internasional bagi masyarakat perbatasan.
“Kami berharap potensi ekonomi di wilayah perbatasan dapat dimanfaatkan secara optimal melalui peningkatan ekspor dan penguatan kerja sama perdagangan,” ujarnya disela- sela kunjungan, Senin lalu (09/03/2026).
Kepala Pos Lintas Batas Negara Badau, Wendelinus Fanu, mengatakan pihaknya terus mendorong pemanfaatan PLBN sebagai pintu ekspor bagi berbagai komoditas unggulan daerah.
Sejumlah komoditas dari wilayah Kabupaten Kapuas Hulu yang saat ini menunjukkan peningkatan ekspor antara lain minyak sawit serta produk perikanan beku.
“PLBN tidak hanya menjadi pintu lintas batas, tetapi juga diharapkan menjadi pintu ekspor bagi produk unggulan masyarakat perbatasan,” kata Wendelinus.
Sementara itu, perwakilan Bea Cukai Badau, Marno, menyampaikan bahwa nilai devisa ekspor melalui PLBN Badau meningkat tajam dalam dua tahun terakhir.
Pada Januari 2025, nilai devisa ekspor tercatat sekitar Rp638 juta dan meningkat menjadi lebih dari Rp4,17 miliar pada Januari 2026. Sementara pada Februari 2025 tercatat Rp916 juta dan naik menjadi sekitar Rp3,37 miliar pada Februari 2026.
Menurutnya, peningkatan tersebut menunjukkan aktivitas perdagangan lintas batas melalui jalur resmi semakin berkembang.
“Peningkatan devisa ekspor ini menjadi indikator bahwa potensi perdagangan melalui perbatasan terus tumbuh dan semakin dimanfaatkan oleh pelaku usaha,” ujarnya.
Setelah meninjau fasilitas PLBN, rombongan Konjen RI juga mengunjungi fasilitas bulking station di kawasan Badau untuk melihat langsung proses pengolahan Crude Palm Oil (CPO) dan bungkil sawit yang menjadi salah satu komoditas ekspor utama menuju Sarawak.
Melalui penguatan sinergi antara perwakilan pemerintah, pengelola perbatasan, dan instansi terkait, aktivitas ekspor di kawasan perbatasan diharapkan terus meningkat dan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat.





