Harimau Masih Berkeliaran, BBKSDA Riau Kirim Kandang Perangkap ke Inhil

Indragiri Hilir (Outsiders) – Warga Desa Danai, Kecamatan Pulau Burung, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, masih dihantui keberadaan harimau Sumatera yang berkeliaran di sekitar wilayah aktivitas masyarakat.

Untuk mengevakuasi satwa dilindungi tersebut, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau mengirimkan kandang perangkap ke Desa Danai.

Bacaan Lainnya

Kandang perangkap dikirim dari Tembilahan menggunakan speedboat pada Senin (10/8/2026) sekitar pukul 11.30 WIB. Perjalanan menuju Pulau Burung memakan waktu sekitar tiga jam.

Kandang tersebut memiliki panjang 180 sentimeter, lebar 70 sentimeter, dan tinggi 100 sentimeter dengan berat mencapai 135 kilogram.

Dalam pengiriman itu, tiga petugas BBKSDA Riau turut berangkat bersama seorang dokter hewan. Setibanya di Desa Danai, kandang langsung dipasang di lokasi yang telah ditentukan.

Humas BBKSDA Riau, Reni, membenarkan pengiriman kandang perangkap tersebut.

“Setibanya di Desa Danai, kandang perangkap langsung dipasang. Petugas BBKSDA terus berupaya melakukan evakuasi terhadap harimau tersebut,” kata Reni.

Jejak Baru Harimau Ditemukan

Keberadaan harimau yang oleh masyarakat setempat dijuluki Datuk Belang sebelumnya telah dilaporkan masuk ke kawasan permukiman dan memangsa ternak warga.

Interaksi negatif antara manusia dan harimau Sumatera itu dilaporkan terjadi pada Jumat (24/7/2026).

Menindaklanjuti laporan tersebut, BBKSDA Riau menurunkan tim Wildlife Rescue Unit (WRU) untuk melakukan pengecekan sekaligus mitigasi konflik manusia dan satwa liar.

Kepala BBKSDA Riau, Supartono, mengatakan tim menemukan jejak baru harimau Sumatera di sekitar lokasi kejadian.

Jejak tersebut memiliki ukuran telapak kaki sekitar 14 sentimeter panjang dan 13 sentimeter lebar.

Untuk mengetahui pergerakan satwa, tim memasang kamera jebak atau camera trap. Pemantauan juga dilakukan dari udara menggunakan drone.

Temuan jejak baru itu semakin membuat warga khawatir karena menunjukkan harimau diduga masih berada di sekitar wilayah Desa Danai.

Kepala Desa Danai, Halim, berharap proses evakuasi dapat segera berhasil.

“Harapan kami harimau ini segera dievakuasi. Selama masih berkeliaran, warga masih takut beraktivitas,” ujar Halim.

Ia mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi aktivitas di kawasan yang diduga menjadi lintasan harimau hingga proses evakuasi selesai.

Warga Diminta Amankan Ternak

Selain melakukan pemantauan dan pemasangan kandang perangkap, BBKSDA Riau juga memberikan edukasi kepada masyarakat dan perangkat desa mengenai langkah pencegahan konflik dengan harimau.

Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan ketika beraktivitas di kebun maupun kawasan yang menjadi lokasi kemunculan harimau.

BBKSDA juga menyarankan agar ternak seperti sapi dan kambing dikandangkan. Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi potensi harimau mendekati permukiman karena tertarik dengan keberadaan hewan ternak.

Tim juga menyarankan penggunaan meriam spirtus sebagai salah satu upaya menghalau kemunculan harimau agar kembali ke habitatnya.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Inhil, Junaidy, mengatakan pengiriman kandang perangkap merupakan salah satu langkah penanganan untuk mengamankan harimau sekaligus mengurangi keresahan masyarakat.

“Kandangnya dikirim kemarin menggunakan speedboat,” kata Junaidy, Selasa (11/8/2026).

Meski menimbulkan keresahan, harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) merupakan satwa dilindungi dan memiliki peran penting dalam ekosistem.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Satyawan Pudyatmoko, mengatakan harimau Sumatera merupakan satwa kunci yang dilindungi undang-undang sekaligus satwa kebanggaan Pulau Sumatera.

“Untuk itu mari kita jaga alam dan isinya untuk kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

BBKSDA Riau mengimbau masyarakat segera melapor kepada petugas atau aparat setempat apabila melihat keberadaan harimau.

Pelaporan tersebut diperlukan agar petugas dapat melakukan penanganan secara cepat sekaligus mencegah konflik antara manusia dan satwa liar kembali terjadi.

Pos terkait