Pelalawan (Outsiders) – Seekor anak harimau Sumatera berjenis kelamin betina berhasil diamankan tim Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau setelah beberapa kali dilaporkan memangsa ternak warga di kawasan Tanjung Pulai, Desa Pulau Muda, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan.
Satwa liar dilindungi tersebut masuk ke dalam kandang jebak yang dipasang warga dan petugas pada Selasa malam (10/3/2026) sekitar pukul 21.00 WIB.
Kepala Bidang Teknis BBKSDA Riau Ujang Holisudin mengatakan kemunculan harimau pertama kali dilaporkan warga pada 25 Februari 2026. Saat itu seekor harimau terlihat memburu kambing milik warga hingga mendekati teras rumah di kawasan Tanjung Pulai.
“Untuk mencegah konflik antara manusia dan satwa liar, tim mitigasi langsung kami turunkan ke lokasi dan memasang kandang jebak atau box trap,” kata Ujang.
Meski demikian, hingga 3 Maret 2026 satwa tersebut belum berhasil diamankan.
Kemunculan kembali harimau itu terjadi pada Senin (9/3/2026) sekitar pukul 20.00 WIB. Seorang warga mendapati seekor kambing miliknya yang berada di dalam kandang ditemukan mati dimangsa tidak jauh dari Simpang Tiga jalan menuju Desa Pulau Muda.
“Lokasi kemunculan ini tidak jauh dari Desa Pulau Muda. Dalam beberapa bulan terakhir wilayah tersebut memang sering dilaporkan menjadi titik kemunculan harimau,” ujarnya.
Khawatir ternak mereka terus menjadi sasaran, warga kemudian berinisiatif memasang kandang jebak tambahan pada Selasa siang (10/3) di lokasi kejadian dengan memanfaatkan sisa bangkai ternak sebagai umpan.
Upaya tersebut membuahkan hasil. Pada malam harinya, sekitar pukul 21.00 WIB, harimau itu terpantau masuk ke dalam kandang jebak dan langsung diamankan oleh petugas bersama masyarakat.
Pada Rabu (11/3/2026), tim dokter hewan BBKSDA Riau melakukan evakuasi terhadap satwa tersebut untuk menjalani pemeriksaan kesehatan.
Dari hasil pemeriksaan awal diketahui anak harimau tersebut berjenis kelamin betina dengan perkiraan usia kurang dari satu tahun.
“Kondisinya secara umum sehat dan tidak ditemukan luka pada tubuhnya. Namun secara fisik terlihat agak kurus yang diduga akibat kekurangan makanan,” kata Ujang.
Saat ini anak harimau Sumatera tersebut ditempatkan di pusat penyelamatan satwa milik Yayasan Arsari Djojohadikusumo untuk menjalani pemantauan serta pemulihan kondisi sebelum dipertimbangkan untuk dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya.
BBKSDA Riau mengimbau masyarakat agar tetap waspada dan tidak melakukan tindakan yang dapat membahayakan diri maupun satwa liar yang dilindungi.
“Jika masyarakat menemukan tanda keberadaan harimau Sumatera di sekitar permukiman, segera laporkan kepada petugas atau hubungi call center BBKSDA Riau agar dapat segera ditangani,” ujar Ujang.
Ia juga mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak dalam upaya mitigasi konflik satwa liar tersebut, termasuk unsur TNI, Polri, perusahaan pemegang izin usaha serta masyarakat setempat.





