Menyusuri rimba terakhir gajah Sumatera di Riau

Gajah di Flying Squad TNTN

Oleh Rosyita Hasan

Hutan ini sepi, tetapi tidak pernah benar-benar sunyi. Dari balik semak yang rimbun dan pepohonan yang menjulang seperti pilar-pilar kuil purba, terdengar suara ranting patah, dedaunan jatuh, dan kadang lenguhan berat yang memecah keheningan, gajah Sumatera sedang berjalan, menyusuri jalur tanah merah di tengah rimba dataran rendah. Di sinilah, di jantung Provinsi Riau, bentang alam Tesso Nilo menyimpan sisa-sisa terakhir dari keajaiban tropis Sumatera yang kian langka.

Bacaan Lainnya

Tesso Nilo (Outsiders) – Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) mencakup area seluas lebih dari 80 ribu hektare, membentang di antara Kabupaten Pelalawan dan Indragiri Hulu. Hutan ini dulunya jauh lebih luas, hamparan dataran rendah hijau tak berujung, namun dalam beberapa dekade terakhir, banyak bagian hutan lenyap oleh gergaji mesin, api, dan semangat pembangunan yang tak terkendali. Kini, hanya kurang dari 25 persen kawasan yang masih berupa hutan alami.

Berbeda dengan taman nasional di pegunungan, Tesso Nilo merupakan ekosistem hutan dataran rendah tropis, jenis hutan yang paling kaya biodiversitas tetapi juga paling rentan punah. Lanskapnya relatif datar hingga sedikit bergelombang, dengan ketinggian hanya 50 hingga 175 meter di atas permukaan laut. Pohon-pohon seperti meranti, ramin, jelutung, dan tembesu tumbuh di tanah berlempung basah, bersaing menjulang ke langit untuk mengejar cahaya.

Hutan ini menyimpan lebih dari 360 spesies flora, dan menjadi rumah bagi gajah Sumatera, harimau Sumatera, tapir Asia, beruang madu, hingga berbagai jenis primata seperti siamang dan monyet ekor panjang. Setidaknya 107 jenis burung telah tercatat, termasuk burung rangkong yang suaranya menggema seperti palu kayu, dan elang ular yang menatap tajam dari pucuk pohon tertinggi.

Di antara seluruh penghuni Tesso Nilo, tak ada yang lebih ikonik daripada gajah Sumatera. Satwa ini bukan sekadar penghuni, melainkan arsitek hutan: mereka menciptakan jalur, membuka celah untuk cahaya masuk, menyebarkan benih lewat kotoran, dan menjaga keseimbangan ekosistem. Namun kini, populasi mereka terdesak. Perambahan, pembukaan kebun sawit ilegal, dan konflik dengan manusia membuat gajah-gajah ini kehilangan habitatnya.

Petugas TNTN memberikan penjelasan kepada pengunjung terkait keberadaan Gajah di konservasi tersebut

Banyak dari mereka dipaksa keluar dari hutan, masuk ke desa dan lahan pertanian, mencari makanan dan air. Beberapa mati terkena jerat, racun, bahkan dibunuh. Sejumlah kecil dari mereka kini dibina dalam program Flying Squad, di mana gajah jinak digunakan untuk mendorong gajah liar kembali ke hutan serta mendidik masyarakat tentang pentingnya konservasi.

Tesso Nilo tak hanya menyimpan kekayaan alam, tetapi juga kebudayaan. Masyarakat lokal di sekitar taman nasional memanen madu sialang dari pohon-pohon tinggi yang dipanjat dengan tali rotan dan api obor, biasanya dilakukan pada malam hari. Proses ini bukan sekadar aktivitas ekonomi, tapi sebuah ritual yang sakral, diwariskan turun-temurun dengan pantangan dan aturan adat yang ketat.

Selain madu, warga menggantungkan hidup dari hasil hutan bukan kayu seperti rotan, damar, dan tumbuhan obat. Mereka mengenal lebih dari 80 jenis tanaman obat, dan tahu bagaimana cara hidup selaras dengan hutan, sebuah pengetahuan yang kian tergerus zaman.

Namun keheningan rimba tak menutupi kenyataan pahit: Tesso Nilo sedang sakit. Sejak diresmikan sebagai taman nasional pada 2004, kawasan ini terus digerogoti oleh penebangan liar dan konversi menjadi kebun sawit ilegal. Citra satelit menunjukkan bahwa lebih dari 60 ribu hektare kawasan telah berubah fungsi, dan banyak bagian taman kini dikelilingi pemukiman, jalan logging, dan blok-blok kebun yang mengisolasi satwa liar.

Menyirami gajah adalah salah satu tugas para Mahout (pawang gajah) untuk menjaga kelembaban kulit gajah

Konflik manusia dan gajah menjadi isu utama. Warga merasa terancam, gajah merasa tersingkir. Sering kali, tidak ada pemenang. Harimau pun kadang masuk ke kebun, kehilangan mangsa alaminya, dan akhirnya diburu. Jerat ditemukan di hampir semua sudut taman.

Meski tantangannya besar, usaha konservasi tetap berlangsung. Pemerintah, bersama lembaga seperti WWF dan para peneliti, menjalankan program restorasi hutan, patroli rutin, edukasi warga, hingga penggunaan teknologi seperti kamera jebak dan drone untuk memantau satwa dan aktivitas ilegal.

Di Flying Squad Camp, wisatawan dan pelajar bisa belajar langsung tentang kehidupan gajah dan konservasi. Di sisi lain, inisiatif seperti penanaman kembali pohon asli dan pelibatan masyarakat dalam pemetaan partisipatif mulai menunjukkan hasil.

Namun, waktu terus berjalan. Tanpa komitmen kuat dan konsistensi jangka panjang, Tesso Nilo bisa tinggal nama.

Pengunjung mendapatkan kesempatan berinteraksi dengan gajah terlatih di TNTN

Taman Nasional Tesso Nilo adalah potret keindahan yang terancam. Ia menyimpan kekayaan luar biasa, alam, satwa, budaya tetapi sekaligus rapuh di bawah tekanan ekonomi dan politik. Di hutan ini, kita bisa belajar banyak tentang simbiosis antara manusia dan alam, juga tentang apa yang akan hilang jika kita gagal menjaganya.

Tesso Nilo bukan hanya hutan, tapi cermin masa depan. Jika kita bisa menyelamatkannya, mungkin kita bisa menyelamatkan lebih dari sekadar pohon dan binatang, tapi juga warisan bumi yang tak ternilai.

Menata ulang warisan hijau: Penertiban kawasan hutan dan upaya pengembalian fungsi konservasi

Di balik tembok kokoh Gedung Utama Kejaksaan Agung, Jakarta, babak baru dalam pengelolaan sumber daya alam Indonesia kembali digulirkan. Rabu, 9 Juli 2025, Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) secara resmi menyerahkan penguasaan kembali kawasan hutan seluas 1 juta hektare kepada PT Agrinas Palma Nusantara (Persero). Penyerahan ini tak sekadar simbol administratif, tetapi merupakan puncak dari proses panjang dan kompleks dalam merebut kembali hak negara atas hutan yang telah lama dikuasai secara ilegal oleh ratusan korporasi.

Penyerahan secara simbolis 401 Hektare lahan sawit yang sebelumnya dikuasai masyarakat di Taman Nasional Tesso Nilo kepada negara melalui satgas PKH, Ahad (29/06/2025). Dok. Istimewa

Acara yang berlangsung di Aula Lantai 11 itu dihadiri langsung oleh tokoh-tokoh strategis negara, termasuk Menteri Pertahanan sekaligus Ketua Pengarah Satgas PKH Sjafrie Sjamsoeddin, Jaksa Agung ST Burhanuddin, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq, dan Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara. Keberadaan mereka menggambarkan bahwa misi penertiban kawasan hutan kini menjadi agenda nasional lintas sektor, bukan lagi semata urusan kehutanan.

Menurut Ketua Pelaksana Satgas PKH, Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (JAM PIDSUS) Febrie Adriansyah, penyerahan tahap II ini merupakan salah satu capaian besar dalam sejarah pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia. Dari Kalimantan Tengah, Riau, Sumatra Utara hingga Sumatra Selatan, Satgas PKH berhasil mengambil kembali 394.547,29 hektare lahan dari 232 perusahaan untuk diserahkan pengelolaannya kepada BUMN sektor agro tersebut.

Langkah ini melanjutkan dua tahap penyerahan sebelumnya. Tahap I berlangsung pada Maret 2025 dengan luas 221.868,421 hektare, disusul tahap II pada 26 Maret 2025 sebesar 216.997,750 hektare yang diambil dari 109 perusahaan. Total dari ketiga tahap penyerahan kini telah mencapai 833.413,461 hektare.

Namun kerja Satgas PKH tak berhenti di sana. Secara keseluruhan, sejak awal 2025 hingga pertengahan tahun, tim ini telah berhasil melakukan penguasaan kembali atas 2.092.393,53 hektare kawasan hutan yang tersebar di seluruh Indonesia. Tahap pertama dilakukan pada Februari-Maret dengan luas 1.019.000 hektare yang berasal dari 369 perusahaan di 64 kabupaten dan 9 provinsi. Tahap kedua dilanjutkan pada April-Juni dengan luas 1.072.782,22 hektare yang mencakup 108 kabupaten di 12 provinsi dan diperoleh dari 315 perusahaan.

Fokus konservasi: menyelamatkan Taman Nasional Tesso Nilo dan Kerinci Seblat

Lebih dari sekadar mengambil alih lahan industri, Satgas PKH juga memberikan perhatian serius pada kawasan konservasi. Salah satu sorotan utama adalah penguasaan kembali dua kawasan hutan strategis yang menjadi bagian dari dua taman nasional penting di Indonesia: Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) di Riau dan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) di Jambi.

Di Tesso Nilo, kawasan seluas 81.793 hektare berhasil kembali berada dalam kendali negara. Area ini sebelumnya tergerus oleh ekspansi kebun sawit dan pemukiman ilegal, padahal Tesso Nilo merupakan rumah bagi spesies kunci seperti gajah Sumatera dan berbagai flora endemik. Dalam prosesnya, Satgas PKH dihadapkan pada tantangan pelik: dari klaim kepemilikan Sertifikat Hak Milik (SHM) yang tidak sah, kebutuhan untuk merelokasi penduduk secara manusiawi, hingga resistensi dari sebagian masyarakat yang merasa kehilangan mata pencaharian.

Sementara itu, di Taman Nasional Kerinci Seblat—bagian dari Situs Warisan Dunia UNESCO—Satgas PKH berhasil menguasai kembali 101.105 hektare hutan. Keberhasilan ini dianggap sangat strategis dalam konteks menjaga keberlanjutan ekosistem Bukit Barisan serta mendukung upaya mitigasi perubahan iklim global.

Membangun sinergi menuju tata kelola hutan berkelanjutan

Seluruh proses penguasaan kembali kawasan hutan ini bukanlah hasil kerja satu lembaga semata. JAM PIDSUS Febrie Adriansyah menegaskan pentingnya sinergi antarlembaga dan pemangku kepentingan, dari kementerian teknis hingga aparat penegak hukum. Kolaborasi menjadi kunci utama untuk menjamin keberhasilan jangka panjang dalam tata kelola hutan yang adil dan lestari.

Apresiasi pun diberikan kepada semua pihak yang telah berkontribusi. Febrie menutup dengan pesan mendalam yang mencerminkan paradigma baru pengelolaan sumber daya alam: “Hutan adalah anugerah Tuhan yang harus dikelola untuk kemakmuran rakyat Indonesia. Melalui kerja bersama dan langkah terpadu, kita wujudkan masa depan Indonesia yang lebih adil, makmur, dan lestari.”

Dengan langkah strategis ini, Satgas PKH bukan hanya menegakkan hukum dan kedaulatan negara atas hutan, tetapi juga membentangkan harapan baru bagi keberlanjutan lingkungan hidup Indonesia.

Assyifa School

Pos terkait