Natuna, I’m Coming

“Sudah ada kabar? Siapa nama korban? Masih di IGD kah?” berondong Ujang kepada sejumlah kuli tinta yang sudah bergerombol di depan pintu masuk RSUD Natuna.

Bacaan Lainnya

Tidak ada jawaban pasti dari mereka, hanya gelengan kepala atau isyarat bahu naik turun sebagai tanda yang diberikan kepada Ujang. Untuk mencairkan suasana, aku mulai memperkenalkan diri kepada mereka.

“Dari media apa, kak?” tanya salah seorang jurnalis.

“LKBN Antara Kepulauan Riau,” ujarku sambil mengulas senyum kepadanya.

Tak lama Ujang memberi tanda agar bergeser dari tempat tersebut. Aku mengangguk, lalu kami pindah ke café seberang rumah sakit. Kebetulan sekali, sejak mendarat tadi aku memang merasa haus, namun untuk mengutarakan kepada Ujang, agak segan rasanya.

“Tak ada guna juga berlama- lama menanti informasi korban kekerasan tadi, lagi pula setelah berita di tulis, siapa yang berani mengirimkannya ke media masing- masing? Pelaku kekerasan diketahui oknum “berpangkat”, kalau besok terbit di koran, habislah yang nulis berita itu di pelasah,” celoteh Ujang panjang lebar membuka pembicaraan sambil terkekeh- kekeh.

Seharusnya, informasi korban kekerasan tadi menjadi berita perdana yang akan kukirim ke kantor pusat, meskipun resikonya terlalu besar. “Hilang malam”, begitu istilah yang dipakai rekan- rekan bila nekad mengeksposnya.

Berontak juga hati ini mendengarnya. Kalau sudah begitu, di mana kebebasan pers yang diagung- agungkan selama ini? Atau seberapa ampuh Undang- undang Pers Nomor 40 tahun 1999 menjamin keselamatan jurnalis dilapangan? Entahlah…

“Jangan difikirkan, Kak. Case closed!” kata Ujang sambari menempelkan jari telunjuk melintang diantara bibirnya.

“Okey, Case closed!” ujarku mengulangi perkataan Ujang sambil meniru menempelkan telunjuk di bibirku.

Beda sekali. Sangat berbeda bila dibandingkan dengan tempat tugasku sebelumnya, Siak Sri Indrapura, kota kecil yang tenang, dimana aku menghabiskan masa dua tahun setelah memutuskan turun gunung sebagai kuli tinta sekembali dari studi S2 di Universitas Kebangsaan Malaysia.

Dunia jurnalistik sudah menjadi nama keduaku, mungkin tak akan bisa lepas hingga akhir hayat. Semasa tinggal di Kajang, Selangor, Malaysia, disela- sela kegiatan kampus aku bahkan sempat- sempatnya menjadi koresponden luar negeri Majalah Kartini, khususnya Malaysia dan Singapura.

Pos terkait