Mulai liputan pembebasan TKI dari tuntutan hukuman mati, pernikahan seorang nenek dengan pemuda lajang yang menggemparkan negeri jiran pada masa itu, hingga liputan tahapan demi tahapan pernikahan penyanyi tersohor Siti Nurhalizah, memberikan warna tersendiri setiap jengkal pengalamanku sebagai jurnalis pengembara.
Begitu juga dengan Siak, yang memberikan pengalaman besar kepadaku, tidak hanya sebagai pewarta, namun berkesempatan turut ambil bagian dalam pelestarian lingkungan dan penghijauan. Apalagi ketika dipercaya menjalankan program “ANTARA Menanam 2011”, sebagai program penghijaun Perum Lembaga Kantor Berita Negara Antara tempatku berkerja.
Kala itu atas perintah kantor, aku turut ambil bagian memediasi LKBN Antara Biro Riau dengan Pemerintah Kabupaten Siak agar terselenggaranya penanaman 10 ribu bibit pohon Trembesi di sepanjang jalan lintas Buatan – Siak sepanjang 25 km, sebagai tempat pelaksanaan acara puncak program ANTARA Menanam 2011 yang dihadiri Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan dan Gubernur Riau Rusli Zainal Serta Bupati Siak Arwin AS sebagai tuan rumah.
“Ayo diminum kopinya, sudah dingin kelihatannya,” sentak ujang membuyarkan lamunanku.
Aku jadi tersipu, lalu kugapai gelas kedua itu setelah sebelumnya menghabiskan segelas es sirup untuk melepas dahaga.
Obrolan berlanjut hangat membicarakan seputar kondisi Natuna. Sangkin asyiknya, aku tak menghiraukan nada SMS masuk yang terdengar dari ponsel. Kubaca juga akhirnya, rata- rata berasal dari kawan- kawan Batam dan Siak, semuanya menanyakan keadaanku.
“Saya sudah sampai dengan selamat. Sekarang lagi kumpul dengan teman-teman Natuna. Mereka menjamu saya dengan baik,” begitu pesan singkat yang kukirim untuk menjawab kekhawatiran mereka terhadapku.
“Sebaiknya istirahat saja dulu, besok kita ke kantor bupati. Ayo, saya antar ke tempat kos,” ucap Ujang sambil beranjak menuju kasir. Setelah semua beres, lalu kami hengkang dari café itu.
Ketika siang beranjak petang, usai istirahat berebah badan beberapa saat, spontan muncul rasa ingin mencium aroma khas laut. Seperti tengah mengidam saat hamil muda, rasa itu semakin menggebu untuk ditunaikan. Kupaksakan juga mencari tahu cara untuk menuju tepian meski rasa letih masih tersisa, namun sampai juga akhirnya di Pantai Sengiap.
Kutapakkan kaki ini di atas tebaran pasir putih pantai. Saat kuangkat, terlihat cetakan kakiku menjejak. Sempat kunikmati beberapa saat, sebelum ombak mengikis dan seolah membawanya ke tengah laut menembus samudera luas. Aku tersenyum sendiri melihatnya, lalu berulang kali kulakukan hal serupa, berprilaku seperti anak kecil yang baru dapat mainan anyar. Hilang semua gundah. Bebas! Sebebas hatiku yang ingin menancapkan harapan baru di pulau ini.
Sejenak kemudian kesunyian pantai membisikkan nyanyian pasir diringi nada riak gelombang. Tak salah bila pantai ini disebut dengan Pantai Sengiap dengan pasir berbisiknya yang terasa membuai sukma. Kuresapi setiap tarikan nafas beraroma fantastis, aroma laut yang kuidamkan tadi kini kunikmati dalam kesendirian yang menyatu pada setiap mili saraf tubuhku. Memberikan kekuatan baru, membuatku terbebas dari segala tekanan jiwa, merdeka dalam arti sebenarnya.





