Di kaki pegunungan Leuser, Sumatra Utara, terhampar sebuah kawasan hutan tropis yang menjadi rumah terakhir bagi banyak satwa endemik, salah satunya adalah gajah Sumatera. Di dalam wilayah Taman Nasional Gunung Leuser, tepatnya di Desa Tangkahan, upaya pelestarian gajah tidak hanya menjadi tugas negara atau lembaga konservasi, tetapi telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat. Tangkahan tumbuh menjadi contoh kolaborasi antara konservasi dan pariwisata berbasis komunitas, yang berdampak langsung pada pelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan warga.
Pekanbaru (Outsiders) – Gajah Sumatera atau Elephas maximus sumatranus termasuk dalam daftar spesies sangat terancam punah menurut IUCN. Populasinya terus menurun akibat deforestasi, fragmentasi habitat, dan konflik dengan manusia. Data konservasi terakhir menunjukkan bahwa jumlah populasi gajah liar di Sumatra hanya tersisa sekitar 924 hingga 1.359 ekor, menyusut lebih dari separuh dalam dua dekade terakhir. Di tengah kondisi tersebut, Tangkahan menjadi salah satu titik penting dalam upaya perlindungan spesies besar ini.
Di Tangkahan terdapat Pusat Latihan Satwa Khusus (PLSK) yang dikelola oleh Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser. Tempat ini menjadi rumah bagi gajah jinak yang dahulu terlibat konflik dengan manusia dan kini dirawat secara profesional oleh para mahout atau pawang gajah. Per akhir 2021, PLSK merawat sepuluh ekor gajah yang terdiri dari dewasa dan anakan. Salah satu indikator keberhasilan dari lembaga ini adalah kelahiran seekor anak gajah betina, yang menjadi simbol harapan bagi kelangsungan spesiesnya.

Selain menjadi pusat rehabilitasi dan pengelolaan satwa, PLSK juga mendukung keberadaan Conservation Response Unit (CRU). Unit ini berfungsi sebagai tim patroli hutan yang menggunakan gajah untuk menjelajahi kawasan dan mencegah aktivitas ilegal seperti pembalakan liar serta perburuan satwa. Kehadiran gajah justru menjadi kekuatan utama dalam menjaga kawasan hutan. Patroli bersama antara mahout, gajah, dan petugas taman nasional merupakan pendekatan konservasi yang efektif di wilayah dengan akses yang sulit dan kondisi hutan yang padat.
Sisi lain dari konservasi di Tangkahan adalah keterlibatan aktif masyarakat dalam aktivitas pariwisata berbasis konservasi. Melalui Lembaga Pariwisata Tangkahan (LPT), masyarakat setempat mengelola homestay, menjadi pemandu wisata, penyedia jasa transportasi, hingga edukator lingkungan. Pengunjung tidak hanya datang untuk melihat gajah, tetapi juga belajar tentang upaya konservasi dan pentingnya menjaga ekosistem. Aktivitas seperti memandikan gajah, memberi makan, dan mengikuti diskusi bersama mahout menjadi bagian dari wisata edukatif yang ditawarkan kepada wisatawan.

Peningkatan jumlah wisatawan dari tahun ke tahun menunjukkan bahwa model pariwisata ini mampu menarik minat publik. Pada 2018 hingga 2020, jumlah kunjungan wisatawan ke Tangkahan tercatat mencapai lebih dari seratus ribu orang setiap tahunnya, sebagian besar berasal dari dalam negeri. Wisatawan tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi turut berkontribusi secara langsung terhadap konservasi satwa dan pembangunan desa.
Perubahan besar yang terjadi di Tangkahan tidak lepas dari peran serta masyarakat. Dulu, sebagian warga bergantung pada penebangan hutan dan perburuan. Namun kini, mereka menjadi pelindung hutan dan satwa melalui peran aktif dalam ekowisata dan konservasi. Studi akademik menunjukkan bahwa keterlibatan masyarakat dalam konservasi tidak hanya didorong oleh faktor ekonomi, tetapi juga oleh peningkatan kesadaran lingkungan dan rasa tanggung jawab kolektif terhadap alam.
Upaya konservasi di Tangkahan juga mendapat perhatian dan pengakuan dari dunia internasional. Pada awal 2023, perwakilan UNESCO melakukan kunjungan ke kawasan ini dan memberikan apresiasi atas keberhasilan pengelolaan konservasi di Tangkahan, yang turut mendukung keluarnya Taman Nasional Gunung Leuser dari daftar warisan dunia dalam bahaya. Ini menjadi bukti bahwa pendekatan berbasis komunitas dengan dukungan kelembagaan yang kuat mampu menjadi model konservasi yang berkelanjutan.
Tangkahan telah membuktikan bahwa pelestarian gajah Sumatera tidak hanya bergantung pada teknologi atau regulasi, tetapi lebih pada kemauan dan keterlibatan aktif masyarakat yang hidup berdampingan dengan alam. Desa ini bukan hanya menjadi tempat konservasi, tetapi juga ruang belajar, laboratorium sosial, dan inspirasi bagi masa depan konservasi Indonesia.






