Karhutla Meluas di Lahan Gambut Riau, Puluhan Hektare Terbakar dan Api Belum Terkendali

Pekanbaru (Outsider) – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mengancam ekosistem gambut di Riau. Puluhan hektare lahan terbakar di Kabupaten Bengkalis dan Rokan Hilir, sementara tim gabungan masih menghadapi kesulitan mengendalikan api akibat angin kencang yang terus berubah arah.

Tim Manggala Agni bersama TNI, Polri, BPBD dan unsur terkait masih melakukan pemadaman di dua lokasi tersebut pada Kamis (13/8/2026). Operasi di Bengkalis telah memasuki hari keempat, sedangkan penanganan di Rokan Hilir berlangsung pada hari kelima.

Bacaan Lainnya

Di Desa Buluh Apo, Kecamatan Pinggir, Bengkalis, luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 12 hektare. Kebakaran terjadi di kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) yang ditumbuhi vegetasi kelapa sawit dan semak belukar.

Kepala Manggala Agni Daops Sumatera V/Dumai Alfarizi mengatakan petugas masih menemukan kepulan asap tebal di bagian tengah kawasan terbakar. Tim terus menyisir lokasi untuk mencegah api menjalar lebih luas.

“Petugas terus menyisir area terdampak untuk menahan laju penjalaran api di atas lahan HPT tersebut. Pada hari keempat pemadaman, tim Manggala Agni berupaya melakukan penyisiran di area yang masih terlihat asap tebal mengarah ke tengah lokasi kebakaran,” kata Alfarizi.

Dari 12 hektare lahan yang terbakar, pemadaman darat baru menjangkau sekitar 4 hektare. Manggala Agni membagi personel menjadi enam kelompok dengan dukungan alat Mini Striker dan Max 3.

Tim juga mendapat dukungan dua unit water bombing untuk menjangkau area yang sulit diakses dari darat. Namun, kondisi cuaca menjadi tantangan serius karena angin kencang dan perubahan arah angin membuat api sulit dikendalikan.

“Di lokasi saat ini masih ditemukan titik asap maupun titik api. Angin sangat kencang dan berubah-ubah arah sehingga menghambat proses pemadaman,” ujar Alfarizi.

Ancaman yang lebih luas terjadi di Kepenghuluan Palika, Kecamatan Pasir Limau Kapas, Rokan Hilir. Kebakaran yang memasuki hari kelima telah meluas hingga sekitar 50 hektare lahan gambut.

Dari luas tersebut, tim gabungan baru berhasil memadamkan sekitar 4 hektare. Kondisi ini membuat sebagian besar area terdampak masih berpotensi terbakar kembali, terutama karena api dapat menjalar di bawah permukaan gambut.

Sebelum mengerahkan personel, petugas melakukan pemantauan udara untuk membaca arah penjalaran api. Tim kemudian menggunakan drone untuk melakukan size up dan memetakan titik kebakaran dari udara.

Hasil pemantauan menjadi dasar pembagian sektor pemadaman. Personel dibagi menjadi dua kelompok untuk menangani masing-masing sektor sekaligus menahan penjalaran api agar tidak semakin luas.

Pemadaman dilakukan dengan memanfaatkan pasokan air dari dua jalur parit yang masing-masing memiliki lebar sekitar dua meter dan kedalaman 1,5 meter. Sebanyak tiga unit Mini Striker, 25 rol selang, dan sejumlah tandon air dikerahkan untuk membasahi area gambut yang masih membara.

Hingga pemadaman dihentikan sementara pada pukul 17.00 WIB, kondisi di Rokan Hilir belum sepenuhnya terkendali. Petugas masih menemukan titik api dan kepulan asap tebal yang berpotensi memperluas area kebakaran.

Kebakaran di lahan gambut menjadi perhatian serius karena api tidak hanya membakar vegetasi di permukaan. Bara dapat bertahan di lapisan gambut dan kembali muncul ke permukaan ketika kondisi mendukung. Karena itu, proses pemadaman membutuhkan pembasahan dan pendinginan lahan secara menyeluruh.

Alfarizi memastikan operasi akan dilanjutkan secara intensif hingga seluruh titik api benar-benar padam.

“Kondisi saat ini, kebakaran di lokasi masih belum dapat dikendalikan dan kegiatan pemadaman masih terus dilaksanakan,” pungkasnya.

Ancaman karhutla di Bengkalis dan Rokan Hilir sekaligus menunjukkan pentingnya pencegahan di kawasan gambut. Selain mengancam vegetasi dan habitat, kebakaran gambut juga berpotensi menghasilkan asap dalam jumlah besar serta memperburuk kualitas udara jika api meluas.

Pos terkait