Pesut Mahakam, Penjaga Sungai yang Kian Terpojok

Pesut Mahakam yang mati akibat terjaring nelayan (Foto: Dok. Yayasan Konservasi RASI)

Mahakam (Outsiers) – Pesut Mahakam bukan lumba-lumba biasa. Ia adalah populasi Irrawaddy dolphin (Orcaella brevirostris) yang terisolasi di perairan tawar Mahakam. Populasi kecil ini memiliki ciri genetik khas, berbeda dari kerabatnya yang hidup di laut lepas. Para peneliti menyebut, kehilangan pesut Mahakam sama artinya dengan hilangnya warisan genetik yang tak tergantikan.

Survei foto-identifikasi yang dilakukan tim Yayasan Konservasi RASI (Rare Aquatic Species of Indonesia) memperkirakan jumlah pesut Mahakam hanya tersisa puluhan ekor. Beberapa studi memperkirakan angkanya antara 48 hingga 80 individu saja. Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan alarm keras, populasi sekecil ini sangat rentan terhadap kepunahan akibat faktor acak, penyakit, hingga kecelakaan tunggal.

Bacaan Lainnya

Nelayan di tepian Mahakam sering bercerita, jaring mereka tak jarang tersangkut makhluk besar. Sayangnya, sebagian dari “tangkapan” itu adalah pesut yang terjerat tanpa sengaja. Bycatch atau tertangkap samping telah lama menjadi penyebab kematian utama pesut Mahakam.

Selain itu, aktivitas tambang batu bara, lalu lintas kapal pengangkut, dan pencemaran sungai menambah tekanan. Tabrakan kapal bukan hal asing, sementara kebisingan mesin di bawah air mengganggu navigasi dan komunikasi pesut. Ditambah lagi, berkurangnya ikan akibat degradasi habitat membuat satwa ini semakin sulit bertahan.

Meski kondisinya kritis, bukan berarti pesut Mahakam ditinggalkan begitu saja. Sejumlah upaya konservasi dilakukan. Nelayan mulai dilibatkan dalam uji coba penggunaan pinger, alat pemancar suara yang dipasang di jaring untuk mencegah pesut mendekat. Hasil awal cukup menjanjikan, meski masih perlu penelitian jangka panjang.

Di sisi lain, program edukasi digencarkan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat. “Pesut adalah sahabat sungai. Kalau pesut masih ada, berarti sungai kita sehat,” begitu ungkapan yang kerap digaungkan dalam kegiatan penyuluhan.

Bagi masyarakat Mahakam, pesut  dipercaya membawa keberuntungan, bahkan menjadi maskot Provinsi Kalimantan Timur. Hilangnya pesut berarti hilangnya bagian dari identitas budaya.

Populasi kecil, ancaman berlapis, serta perubahan ekosistem menjadikan pesut Mahakam salah satu mamalia air paling terancam punah di dunia. Para ahli konservasi menekankan pentingnya langkah cepat: pengurangan drastis bycatch, perlindungan habitat kritis, hingga pengaturan lalu lintas kapal. Tanpa itu semua, Mahakam bisa kehilangan penjaga alaminya.

Sungai ini sudah ratusan tahun menjadi nadi kehidupan masyarakat Kalimantan Timur. Pesut Mahakam, dengan senyum khasnya, adalah bagian tak terpisahkan dari denyut itu. Kini, pertanyaannya sederhana sekaligus berat, apakah kita rela membiarkan senyum terakhir pesut Mahakam tenggelam bersama deras arus Sungai Mahakam?

Pos terkait