Tradisi tidur beralaskan pasir di Desa Kampung Kasur Madura

Setiap halaman warga di Kampung Kasur biasanya tersedia hamparan pasir untuk bersantai (dok. Rizquna Channel)

Sumenep (Outsiders) – Di wilayah timur Pulau Madura, tepatnya di Kabupaten Sumenep, terdapat sebuah tradisi unik yang masih dijalankan oleh sebagian masyarakat di desa-desa pesisir. Mereka memilih tidur di atas pasir sebagai bagian dari kebiasaan hidup sehari-hari.

Tradisi ini secara khusus dipraktikkan oleh warga di Desa Legung Timur, Legung Barat, dan Dapenda yang berada di Kecamatan Batang-Batang. Meskipun zaman telah berubah dan banyak rumah kini dilengkapi kasur modern, sebagian warga tetap setia menggunakan pasir sebagai alas utama untuk beristirahat.

Pasir yang digunakan berasal dari Pantai Lombang, yang letaknya tak jauh dari permukiman. Warga secara rutin mengambil pasir tersebut, lalu menyaringnya hingga benar-benar halus dan bersih sebelum dibawa pulang.

Setelah dijemur agar kering, pasir ditata rapi di dalam ruangan rumah, biasanya di sudut kamar atau di beranda. Area ini disiapkan secara khusus sebagai tempat tidur. Dalam praktiknya, pasir tersebut tidak langsung ditiduri begitu saja, tetapi biasanya dilapisi kain tipis atau digunakan bersama sarung sebagai penutup tubuh.

Masyarakat meyakini bahwa tidur di atas pasir memberi banyak manfaat bagi kesehatan. Mereka merasakan sensasi sejuk saat malam yang panas, dan sebaliknya merasa hangat ketika cuaca dingin.

Salah satu keluarga yang menikmati pasir sebagai media untuk melepas lelah (dok. Rizquna Channel)

Sebagian besar warga juga percaya bahwa pasir dapat membantu meredakan berbagai keluhan fisik seperti pegal-pegal, nyeri sendi, gatal kulit, bahkan gangguan pernapasan. Selain manfaat fisik, tidur di atas pasir juga memberi kenyamanan psikologis bagi warga yang telah terbiasa sejak kecil. Bagi mereka, pasir bukan sekadar bahan alami, tetapi bagian dari identitas dan kenyamanan yang tidak tergantikan.

Dalam kehidupan sosial masyarakat setempat, pasir juga memiliki makna simbolis. Tidak jarang bayi yang baru lahir langsung diletakkan di atas pasir bersih sebelum dimandikan sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi. Anak-anak pun tumbuh besar dengan tidur di atas pasir hingga tubuh mereka terbiasa dan merasa lebih rileks dibandingkan ketika tidur di atas kasur biasa. Oleh karena itu, tak heran jika sebagian dari mereka dijuluki sebagai manusia pasir karena begitu lekatnya kebiasaan ini dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Beginilah penampakan kamar tidur dengan kasur pasir (dok.Madura Vacation)

Meskipun modernisasi perlahan masuk ke desa-desa tersebut, banyak warga tetap mempertahankan tradisi ini dengan penuh kesadaran. Mereka tidak melihatnya sebagai bentuk keterbatasan, melainkan sebagai warisan leluhur yang telah terbukti membawa manfaat. Kebiasaan ini menunjukkan kearifan lokal dalam menyikapi lingkungan sekitar. Alih-alih bergantung pada kenyamanan modern, mereka menciptakan kenyamanan sendiri dengan memanfaatkan apa yang tersedia secara alami.

Tradisi tidur di atas pasir di Kabupaten Sumenep bukan hanya kebiasaan praktis, tetapi juga mengandung nilai-nilai budaya yang dalam. Masyarakat setempat membuktikan bahwa keselarasan antara manusia dan alam dapat menciptakan kenyamanan sejati. Dengan tetap menjaga tradisi ini, mereka tidak hanya melestarikan warisan leluhur, tetapi juga memperlihatkan cara hidup yang sederhana, sehat, dan penuh makna.

Pos terkait