Upacara Nyaki Tihi, warisan ritual Dayak untuk ibu hamil

Prosesi Nyaki Tihi yang dilaksanakan salah satu keluarga di Kalteng ketika memasuki usia kehamilan 7 bulan (Tankapan layar Youtube: Jepri (@jepritangkidahuyan5366)

Masyarakat Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah masih menjaga tradisi khas untuk melindungi ibu hamil, terutama saat kehamilan pertama. Tradisi tersebut dikenal sebagai Nyaki Tihi, sebuah upacara adat yang dilakukan saat usia kandungan memasuki tujuh bulan.

Kalteng (Outsiders) – Secara harfiah, nyaki berarti mengoles, sementara tihi merujuk pada kehamilan. Maka, Nyaki Tihi berarti prosesi pengolesan kepada ibu hamil. Namun, maknanya lebih dalam dari sekadar simbol fisik. Warga Dayak percaya, ritual ini melindungi ibu dan bayi dari gangguan roh jahat serta membawa keselamatan menjelang persalinan.

Selain perlindungan spiritual, Nyaki Tihi juga menenangkan batin sang ibu. Dengan menjalani upacara ini, ia merasa diterima dan diberkahi oleh leluhur, serta diperkuat secara batiniah dalam menyambut kelahiran anak pertamanya. Upacara ini juga mempererat hubungan sosial antaranggota keluarga dan komunitas.

Warga melaksanakan upacara ini dengan persiapan khusus. Mereka menyembelih hewan, biasanya ayam atau babi, dan menggunakan darahnya untuk mengoles tubuh ibu hamil. Air suci (air tawar) disiramkan, dan beras ditaburkan sebagai lambang kesucian dan keberkahan.

Pemimpin adat, yang disebut dengan istilah basir, memandu prosesi ini. Ia melantunkan doa dan mantra agar roh leluhur memberkati ibu dan janin. Ritual ini juga melibatkan sesaji seperti kue, telur, manik-manik, uang logam, dan dupa, yang ditata di tikar adat.

Rangkaia sesaji yang biasa disiapkan pada upacara Nyahi Tihi

Setelah doa dan pengolesan selesai, sesaji dibuang ke alam, biasanya ke sungai, sebagai simbol pengembalian kepada unsur asal.

Ritual ini hanya dilakukan pada kehamilan pertama. Biasanya digelar saat usia kehamilan memasuki tujuh bulan, fase yang dianggap rawan dan sakral dalam kepercayaan masyarakat Dayak.

Beberapa komunitas juga mengenal ritual pendamping seperti Paleteng Kalangkang Sawang saat usia kandungan tiga bulan dan Mangkang Kahang Badak menjelang bulan kesembilan.

Nyaki Tihi bukan hanya tradisi kehamilan, melainkan media komunikasi spiritual antara manusia, alam, dan leluhur. Masyarakat menyampaikan permohonan, harapan, dan rasa syukur melalui simbol dan sesaji. Dengan begitu, ritual ini memperkuat identitas budaya serta nilai-nilai kebersamaan.

Meski masih dipraktikkan di komunitas adat asli, Nyaki Tihi kini mulai jarang terlihat di daerah perkotaan atau lingkungan yang lebih modern. Namun, beberapa keluarga tetap melestarikannya sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur.

Upacara Nyaki Tihi menjadi bukti bagaimana masyarakat Dayak Ngaju memadukan nilai spiritual, tradisi, dan perlindungan sosial dalam satu prosesi adat. Di tengah arus perubahan zaman, ritual ini tetap mencerminkan hubungan erat antara manusia, alam, dan kepercayaan leluhur—nilai yang terus hidup di hati komunitas adat Kalimantan Tengah.

 

Pos terkait