Pekanbaru (Outsiders) – Inflasi tahunan atau year on year di Provinsi Riau pada Februari 2026 tercatat sebesar 5,30 persen dengan Indeks Harga Konsumen sebesar 112,06. Angka tersebut menunjukkan kenaikan dibanding Februari 2025 yang berada di level 106,42.
Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Riau, Asep Riyadi, menyebutkan inflasi tertinggi terjadi di Tembilahan sebesar 7,32 persen dengan IHK 113,24. Sementara inflasi terendah tercatat di Kabupaten Kampar sebesar 5,14 persen dengan IHK 112,90.
Secara bulanan atau month to month, Riau mengalami inflasi 0,32 persen. Namun secara tahun kalender atau year to date, justru terjadi deflasi sebesar 0,12 persen.
Inflasi tahunan dipicu kenaikan harga pada sembilan kelompok pengeluaran. Kenaikan tertinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 19,60 persen, disusul kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga sebesar 16,27 persen.
Kelompok pendidikan mencatat kenaikan 5,05 persen, makanan, minuman dan tembakau 3,90 persen, pakaian dan alas kaki 2,37 persen, kesehatan 2,08 persen, penyediaan makanan dan minuman atau restoran 1,97 persen, transportasi 0,61 persen, serta informasi, komunikasi dan jasa keuangan 0,07 persen.
Di sisi lain, dua kelompok mengalami deflasi, yakni perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,99 persen serta rekreasi, olahraga dan budaya sebesar 0,10 persen.
Secara andil, kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan dengan kontribusi 1,89 persen. Disusul perawatan pribadi dan jasa lainnya 1,45 persen serta makanan, minuman dan tembakau 1,28 persen.
Sejumlah komoditas yang dominan mendorong inflasi tahunan antara lain tarif listrik, emas perhiasan, daging ayam ras, bawang merah, beras, telur ayam ras, sewa rumah hingga sepeda motor.
Sementara komoditas yang menahan laju inflasi antara lain cabai merah, cabai rawit, kentang, bensin, bawang putih, minyak goreng, dan sejumlah komoditas hortikultura lainnya.
Data tersebut menunjukkan tekanan harga di Riau pada Februari 2026 masih cukup tinggi secara tahunan, meskipun secara akumulasi tahun kalender masih tercatat deflasi tipis.





