Beirut (Outsiders) – Misi Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon atau UNIFIL mengonfirmasi seorang penjaga perdamaian tewas dan dua lainnya terluka setelah posisi mereka di dekat Marjayoun, Lebanon tenggara, dihantam serangan mortir pada Rabu malam (3/6).
Dialporkan NNA Lebanon, dalam pernyataannya, UNIFIL menyebut personel yang mengalami luka kritis sempat dievakuasi menggunakan helikopter ke rumah sakit di Beirut. Namun, nyawanya tidak tertolong dan meninggal dunia pada Kamis (4/6/2026). Dua penjaga perdamaian lainnya masih menjalani perawatan medis.
UNIFIL belum dapat memastikan pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut. Misi PBB itu menyatakan telah membuka penyelidikan untuk mengetahui asal tembakan mortir dan kronologi pasti insiden yang menyebabkan jatuhnya korban.
Peristiwa ini terjadi di tengah situasi keamanan yang masih rapuh di Lebanon selatan. Meski telah diumumkan adanya kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat antara Lebanon dan Israel, sejumlah serangan dan operasi militer masih terus berlangsung di kawasan perbatasan.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan militer Israel masih akan melanjutkan operasi terhadap target-target yang diklaim terkait Hezbollah di Lebanon selatan. Sementara itu, pihak Lebanon dan berbagai pihak internasional terus mendorong implementasi penuh kesepakatan gencatan senjata.
Insiden terbaru ini menambah daftar korban dari kalangan pasukan penjaga perdamaian PBB yang bertugas di Lebanon. Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah personel UNIFIL juga menjadi korban serangan dan ledakan di wilayah konflik tersebut.
UNIFIL menegaskan bahwa keselamatan personel penjaga perdamaian harus dihormati oleh semua pihak yang terlibat konflik serta meminta seluruh pihak mematuhi hukum humaniter internasional guna mencegah jatuhnya korban lebih lanjut.





