Jika Thailand memiliki Death Railway yang mendunia, Indonesia memiliki kisah yang tak kalah kelam di Pulau Sumatera. Membentang sekitar 220 kilometer dari Muaro Kalaban hingga Pekanbaru, jalur kereta api yang dibangun Jepang pada 1943–1945 menjadi simbol penderitaan ribuan pekerja paksa. Proyek yang selesai tepat menjelang Jepang menyerah itu hanya sempat digunakan sesaat, tetapi meninggalkan luka sejarah yang masih membekas hingga kini.
Sejarah kemudian mengenalnya sebagai Pekanbaru Death Railway atau Jalur Kereta Api Maut Pekanbaru, sebuah proyek yang hingga kini masih kalah populer dibandingkan Death Railway Thailand–Burma, padahal skala tragedinya tidak kalah mengerikan.
Ketika Jepang Membutuhkan Jalur Baru
Pada awal 1942, Jepang berhasil menguasai Hindia Belanda. Pendudukan itu membuka akses terhadap berbagai sumber daya alam, terutama batu bara dari tambang Ombilin di Sawahlunto, Sumatera Barat.
Namun, situasi perang di Pasifik berubah cepat. Kapal-kapal Sekutu semakin mendominasi jalur laut di Samudra Hindia dan Selat Malaka. Pengiriman logistik melalui pantai barat Sumatera menjadi sangat berisiko karena rentan diserang kapal selam dan pesawat Sekutu.
Dalam kondisi itulah militer Jepang memutuskan membangun jalur kereta api baru sepanjang sekitar 220 kilometer yang menghubungkan Muaro di Sumatera Barat dengan Pekanbaru di Riau. Jalur tersebut dirancang sebagai koridor logistik darat agar pasukan, amunisi, batu bara, dan berbagai kebutuhan perang dapat dipindahkan ke Pekanbaru, kemudian diangkut menggunakan kapal-kapal kecil melalui Sungai Siak menuju Selat Malaka dan Singapura.
Pekanbaru dipilih karena letaknya berada di tepi Sungai Siak yang dapat dilayari kapal menuju kawasan strategis di Selat Malaka. Semula Jepang bahkan mempertimbangkan memperpanjang jalur hingga Tembilahan, namun akhirnya memilih Pekanbaru sebagai titik akhir karena lebih efektif untuk kepentingan militer.
Rel yang Dibangun dengan Darah
Pembangunan dimulai pada April 1943. Tantangan yang dihadapi luar biasa berat. Hutan tropis Sumatera harus dibelah, rawa-rawa dikeringkan, sungai dijembatani, serta bukit-bukit dipotong menggunakan alat-alat sederhana. Yang membuat proyek ini dikenang bukanlah kecanggihan tekniknya, melainkan cara pembangunannya.
Jepang mengerahkan lebih dari 120.000 romusha, sebagian besar berasal dari Pulau Jawa. Mereka dipaksa meninggalkan kampung halaman dengan janji pekerjaan dan upah yang layak. Kenyataannya sangat berbeda.

Setelah tiba di Sumatera, mereka tinggal di barak-barak sederhana, menerima makanan dalam jumlah minim, bekerja belasan jam setiap hari, dan menjadi korban kekerasan fisik dari penjaga Jepang maupun Korea.
Ketika jumlah romusha mulai berkurang akibat tingginya angka kematian, Jepang mendatangkan sekitar 5.000 tawanan perang Sekutu, terdiri atas tentara Belanda, Inggris, Australia, Amerika Serikat, dan Selandia Baru yang sebelumnya ditawan di Jawa. Mereka ditempatkan di sedikitnya 18 kamp kerja di sepanjang jalur kereta api.

Musuh Terbesar Bukan Hanya Jepang
Bagi para pekerja, ancaman tidak hanya datang dari perlakuan kasar para penjaga. Hutan Sumatera menjadi musuh yang sama mematikannya. Malaria, disentri, kolera, beri-beri, kekurangan gizi, dan infeksi menjadi penyebab kematian setiap hari. Obat-obatan hampir tidak tersedia. Banyak pekerja yang tetap dipaksa bekerja meski dalam kondisi sakit parah. Sebagian meninggal karena kelaparan. Sebagian lagi tewas akibat kecelakaan kerja ketika membangun tanggul, jembatan, maupun terowongan.
Menurut berbagai penelitian sejarah, diperkirakan lebih dari 100.000 romusha meninggal selama proyek berlangsung. Selain itu, sedikitnya 703 tawanan perang Sekutu juga kehilangan nyawa sebelum jalur selesai dibangun. Angka tersebut menjadikan Pekanbaru Death Railway sebagai salah satu proyek kerja paksa paling mematikan pada Perang Dunia II.

Jalur yang Terlambat Selesai
Ironisnya, setelah dua tahun lebih pembangunan yang mengorbankan begitu banyak nyawa, jalur kereta api itu hampir tidak sempat dimanfaatkan. Rel akhirnya tersambung pada Agustus 1945, tepat ketika Jepang menyerah kepada Sekutu setelah bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki.
Sejumlah kesaksian tawanan perang menyebut bahwa mereka baru mengetahui perang telah berakhir ketika diangkut menggunakan kereta menuju Pekanbaru antara 24 hingga 30 Agustus 1945. Tawanan yang sakit kemudian diterbangkan atau dikirim ke Singapura untuk mendapatkan perawatan. Jalur yang dibangun dengan pengorbanan luar biasa itu praktis hanya digunakan dalam waktu yang sangat singkat.
Hilang Ditelan Waktu
Setelah perang berakhir, jalur kereta api perlahan ditinggalkan. Pada awal 1946, rel masih sempat digunakan untuk mengangkut bekas tawanan perang Belanda dari Muaro menuju Pekanbaru. Bahkan terdapat catatan mengenai sebuah kereta yang sempat anjlok sebelum akhirnya berhasil melanjutkan perjalanan.
Tidak lama kemudian, para insinyur Jepang yang tersisa juga menggunakan jalur tersebut untuk meninggalkan Sumatera. Sesudah itu, rel tidak pernah dioperasikan lagi.
Jembatan mulai rusak, bantalan rel lapuk, sementara besi rel dicabut dan dimanfaatkan kembali sebagai besi tua. Dalam beberapa tahun saja, sebagian besar jalur menghilang dari bentang alam Sumatera.
Jejak yang Masih Tersisa
Meski relnya telah hilang, jejak sejarahnya belum sepenuhnya lenyap. Di Pekanbaru masih terdapat kawasan Tugu Pahlawan Kerja yang menyimpan lokomotif tua peninggalan proyek tersebut. Monumen itu menjadi pengingat ribuan romusha yang gugur membangun jalur kereta api.
Penelitian juga menunjukkan bahwa sebagian trase rel pernah melintasi kawasan yang kini dikenal sebagai Tanjung Rhu, Tangkerang, Simpang Tiga hingga menuju Sungai Siak. Bahkan beberapa nama jalan seperti Jalan Lokomotif dan Jalan Kereta Api diyakini berkaitan dengan keberadaan jalur tersebut pada masa perang.
Di sepanjang bekas lintasan juga masih dapat ditemukan sisa pondasi jembatan, bekas tanggul rel, hingga lokasi kamp romusha yang kini telah berubah menjadi permukiman maupun kebun masyarakat.
Mengapa Sejarah Ini Kurang Dikenal?
Jika dibandingkan dengan Death Railway Thailand–Burma yang telah diangkat dalam berbagai buku dan film internasional, tragedi Pekanbaru relatif kurang dikenal.
Sejarawan Belanda Henk Hovinga berupaya mengubah keadaan itu melalui penelitian panjang yang kemudian diterbitkan dalam buku The Sumatra Railroad: Final Destination Pakan Baroe 1943–1945. Ia mewawancarai hampir seratus mantan pekerja, mengumpulkan arsip, peta, foto, serta kesaksian yang menunjukkan betapa besarnya tragedi kemanusiaan yang terjadi di Sumatera. Buku tersebut kini menjadi salah satu rujukan utama mengenai sejarah Jalur Kereta Api Maut Pekanbaru.
Warisan yang Tak Boleh Dilupakan
Hari ini, hampir tidak ada lagi suara peluit lokomotif yang terdengar di Pekanbaru. Jalur rel yang dahulu membelah hutan telah berubah menjadi jalan raya, kawasan permukiman, dan lahan perkebunan.
Namun, di balik perubahan itu tersimpan kisah ribuan manusia yang kehilangan masa depan demi sebuah proyek militer yang nyaris tidak pernah memberikan manfaat.
Death Railway Pekanbaru adalah monumen sunyi tentang perang, kerja paksa, dan harga kemanusiaan yang dibayar terlalu mahal.

Mengingat kembali kisah ini bukan untuk membuka luka lama, melainkan agar generasi sekarang memahami bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak boleh lagi dibangun di atas penindasan dan hilangnya martabat manusia. Jalur sepanjang 220 kilometer itu mungkin telah hilang dari peta transportasi Indonesia, tetapi jejak sejarahnya akan selalu menjadi pengingat bahwa di balik setiap batang rel pernah mengalir keringat, air mata, dan darah ribuan manusia yang dipaksa membangunnya.





