Debus Banten, antara spiritualitas, perlawanan dan pertunjukan magis

Adegan ngebor paha dengan mesin bor yang dilakukan kelompok

Di tengah gemuruh modernisasi, seni tradisi Debus dari Banten masih menggetarkan siapa pun yang menyaksikannya. Tubuh-tubuh manusia yang ditembus paku, digorok lehernya, bahkan dibakar api, tetap tegak tanpa luka. Banyak yang menyebutnya sebagai atraksi kekebalan. Namun di balik aksi ekstrem itu, Debus menyimpan warisan spiritual, budaya, dan sejarah panjang yang terjalin erat dengan identitas masyarakat Banten.

Pekanbaru (Outsiders) – Debus diyakini berkembang di wilayah Banten pada abad ke-16, pada masa Kesultanan Banten di bawah Sultan Maulana Hasanuddin, putra dari Sunan Gunung Jati. Dalam catatan sejarah dan penelitian seperti yang ditulis oleh antropolog Denys Lombard dalam Nusa Jawa, Silang Budaya (1990), Debus awalnya bukan sekadar hiburan atau pertunjukan, melainkan bagian dari latihan spiritual dan fisik prajurit Kesultanan.

Bacaan Lainnya

Ajaran tasawuf, khususnya dari tarekat Qadiriyah dan Syattariyah, diyakini kuat mempengaruhi perkembangan Debus. Melalui zikir, wirid, dan doa-doa tertentu, pelaku Debus (pendebus) diyakini mampu mencapai tingkat spiritual yang memungkinkan tubuhnya kebal terhadap senjata tajam atau benda panas.

Pada masa kolonial Belanda, Debus mengalami transformasi dari seni bela diri spiritual menjadi alat perjuangan dan simbol perlawanan. Sebagaimana dijelaskan dalam buku Perlawanan Rakyat Banten, para jawara Banten, tokoh karismatik yang sering memimpin perlawanan, menggunakan Debus untuk membangkitkan semangat rakyat.

Penjajah Belanda bahkan menyebut Debus sebagai bentuk “kegilaan fanatik” yang sulit dimusnahkan karena unsur mistik dan dukungan sosialnya. Atraksi kekebalan tubuh menjadi semacam propaganda spiritual bahwa penjajah tak mampu menaklukkan tubuh dan jiwa orang Banten.

Debus tidak bisa dipisahkan dari dimensi spiritual. Latihan Debus melibatkan wirid, puasa mutih (hanya makan nasi putih dan air), meditasi, serta bimbingan dari guru spiritual (kyai atau syekh). Setiap atraksi disertai pembacaan doa dalam bahasa Arab dan Jawa, yang dipercaya menjadi “tameng” kekebalan.

Beberapa mantra atau doa berasal dari ayat-ayat Al-Qur’an, seperti Ayat Kursi, Surah Al-Ikhlas, dan Surah Al-Falaq, yang diulang berkali-kali sebelum atraksi dimulai. Ini menunjukkan sinkretisme antara ajaran Islam, khususnya sufisme, dengan budaya lokal.

Atraksi Debus sangat beragam, mulai dari menusuk pipi atau perut dengan besi tajam, menggorok leher dengan golok, membakar tubuh dengan api, menyiramkan air keras atau minyak panas hingga memakan pecahan kaca atau paku.

Namun yang membedakan Debus dari sekadar aksi nekat adalah unsur spiritual dan ritual di balik setiap pertunjukan. Dalam banyak kasus, pertunjukan Debus dipimpin oleh seorang guru spiritual atau “dalang Debus” yang bertanggung jawab menjaga batas antara dunia gaib dan nyata.

Dalam dekade terakhir, Debus menghadapi pergeseran makna dan fungsi. Di satu sisi, ia tetap dianggap bagian dari warisan budaya takbenda yang diakui dan dilestarikan. Namun di sisi lain, beberapa pertunjukan Debus di wilayah perkotaan cenderung kehilangan ruh spiritualnya dan bergeser menjadi atraksi hiburan ekstrem untuk wisata.

Adegan menikam perut hingga terluka yang dilakukan perkumpulan debus Padepokan Macan Pengasinan

Lembaga seperti Dinas Kebudayaan dan Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Banten terus mendorong agar Debus dilestarikan dengan pendekatan edukatif dan kontekstual. Dalam kajian “Kebudayaan Banten dalam Perspektif Sejarah dan Keislaman” (BPNB, 2018), disebutkan bahwa revitalisasi Debus harus menempatkan nilai-nilai pendidikan moral, spiritualitas, dan sejarah perjuangan di garis depan.

Pada tahun 2019, Debus secara resmi diusulkan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). Inisiatif ini mempertegas posisi Debus sebagai warisan bangsa, bukan sekadar pertunjukan ekstrem atau mistik belaka.

Debus adalah cermin dari kompleksitas budaya Banten: kuat dalam spiritualitas, berani dalam perjuangan, dan tetap lestari di tengah zaman yang terus berubah. Ia bukan sekadar seni kekebalan tubuh, melainkan sebuah warisan yang menggabungkan kepercayaan, sejarah, dan identitas lokal.

Ketika kita menyaksikan pendebus menusuk tubuhnya tanpa luka, sesungguhnya kita sedang menyaksikan sejarah panjang rakyat Banten yang menolak tunduk, baik kepada penjajahan fisik maupun ketakutan spiritual.

 

Pos terkait