“Semua naik ke atas, kembali ke pondok!” teriak Eko, ketua rombongan dari kejauhan.
Ia tampak mendayung dengan cepat, gerakan tangannya mengayuh tanpa jeda. Aku yang baru saja duduk di sampan kecil dengan dayung di tangan sedikit tertegun. Tak lama, kesadaranku muncul, “kita naik, bang,” ujarku.
Tak lama, Eko bergegas menaiki pondok, lebih tepatnya sebuah gubuk tempat istirahat nelayan yang sudah lama ditinggal. “Ada buaya panjang sekali, kira-kira lima meter,” tuturnya terengah-engah karena mengayuh sangat cepat. Ia mengambil air mineral botol, wajahnya tampak berkeringat dan terlihat jelas mengucur deras di wajahnya.
Pandanganku tak lepas dari aktivitasnya, ia duduk bersandar pada dinding gubuk terlihat menenangkan diri. “Besar, nggak, buayanya?” tanyanya lugu. Aku teringat pesan seorang ibu, penduduk Desa Teluk Meranti, Kabupaten Pelelawan, Provinsi Riau sebelum kami berangkat menyusuri Sungai Serkap.
“Hati- hati, ya, nak, di sana banyak buaya dan ular yang mematikan,” ujarnya sambil memberiku tudung kepala seperti caping petani, namun terbuat dari daun tumbuhan bersampul kain biru. Aku sangat senang menerima pemberiannya, sepertinya khusus diberikan padaku saja, sehingga saat itu, aku sendiri tidak fokus kepada peringatannya. “Topinya bagus sekali, bu. Terima kasih,” sebutku riang.
Perjalanan bermula bersama tim Ikan Merah dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menuju Danau Besar. Ekspedisi dengan menaiki dua perahu nelayan berukuran 3 atau 4 GT. Rombongan berangkat dengan perbekalan yang sudah diperkirakan. Tentunya tumpukan air mineral yang paling banyak bersama beberapa kotak mie instan.





