Ekspedisi Ikan Merah menyusuri Sungai Serkap

Sementara sungai yang semakin menyempit membuat aku mulai dihingapi kecemasan terhadap ular berbisa yang mungkin  tiba-tiba muncul dari sela-sela ranting pepohonan yang sangat dekat menjuntai di depan mata. Iihhh… Aku tiba-tiba bergidik. Ditambah pula cerita masyarakat tempatan bahwa sering muncul  buaya ke permukaan sungai seiring pembukaan Hutan Tanaman Industri (HTI) milik sebuah perusahaan swasta.

Namun, semangat masih menyala untuk menaklukkan sungai kayu balak ini mencapai satu tujuan, Tasik Besar. Kukuatkan mental dengan mensugesti diri  menepiskan ketakutan yang menghantui.

Aku memperbaiki caping yang dibekali oleh ibu tempat kami menginap begitu tiba di Desa Teluk Meranti, katanya untuk melindungi dari panas terik yang sungguh luar biasa di rawa-rawa. Sekarang entah sudah berapa kilometer dari tempat ini. Pasti sangat jauh sekali, sudah satu hari perjalanan. Aku mengeluarkan kamera dan mulai mendokumentasikan setiap sisi hutan yang semakin lebat.

Kamis, pukul 08.40, seekor burung berwarna biru melintas disela pohon yang menyatukan kedua sisi sungai membentuk kanopi. Aku memandang ke atas, waspada terhadap makhluk melata yang merambat di pohon itu. Tak terbayangkan bila tiba- tiba saja berdesis dan melayang ke perahu. Seram!!!

Untung saja kecemasanku tidak terbukti. Tapi berbeda dengan Reni dan Naila yang melihat seekor ular melintas, mereka kompak berteriak. Hingga membuat rombongan terkejut tanpa berani berbuat apa-apa, hanya membiarkan hewan melata itu bergerak, meliuk hingga ke tepian. Namun, aku hanya mendengar mereka bercerita, tidak melihat. Alhamdulillah, syukurku dalam hati.

Medan semakin sulit,  ditambah panas terik yang luar biasa dari lahan gambut, hingga tiba di persimpangan Suak Bose membuat Bang Imin berpikir keras untuk meneruskan perjalanan melewati Bagan Suntai dan Ekor Bakung sebelum mencapai Tasik Besar.

“Siapa yang maju, terpaksa ada yang tidak bisa meneruskan perjalanan,” ucapnya dengan ketegasan yang sama, sang guide ini memandang ke arah Eko sebagai ketua rombongan.

Akhirnya dari tiga perahu hanya satu diperkirakan bisa menembus medan yang semakin tidak kelihatan jalurnya, begitu sempit, penuh Rasau dan Bakung menutup alur sungai, sementara hari semakin senja.

Bagiku sendiri, perjalanan ini adalah perjalanan jurnalistik yang paling berat, menempati rangking pertama, bahkan menggeser ‘demo’ mengarungi Laut Cina Selatan ditengah malam gulita, menaiki kapal nelayan dengan GT yang sama, diiringi hujan lebat disertai angin kencang.

Pinggir Sungai Serkap dengan tumbuhan endemi yang lebih tinggi dari ukuran tubuh manusia (Dok. Rosyita)

Pos terkait