Ekspedisi Ikan Merah menyusuri Sungai Serkap

Menu ala kadar menjadi sarapan terlezat pagi itu. Sahut- sahutan kicauan burung penunggu hutan sangat merdu di telinga. Pagi ini aku merasa sangat bersemangat melanjutkan perjalanan, bertekad akan sampai  ke tempat tujuan sebelum sore menjelang. Walau perjalanan hari kedua serasa sedikit menegangkan, apalagi terlihat penambahan satu perahu dengan ukuran kecil. Aku merasa sedikit heran, namun pikiran itu segera kutepiskan.

Jalur sungai yang kami telusuri semakin lama semakin menyempit. Pompong atau perahu kecil dari Teluk Meranti seakan tidak mampu untuk menerobos. Dan inilah awal petualangan dimulakan.

Kami sering menundukkan kepala dan menutup mata agar terhindar dari tumbuhan Rasau yang berduri dan daun Bakung yang tumbuh subur di sungai rawa.

Kedua vegetasi yang mendominasi tersebut menyerang dari kedua sisi jalur sungai yang semakin menyempit. Terkadang tanpa sengaja pipi tertampar oleh daun Bakung yang lebar karena tidak bisa dihindari lagi seiring laju perahu.

Pemandangan Sungai Serkap, jauh berbeda dari sebelumnya. “Dulu sungai ini merupakan jalur kayu balak. Namun, sejak penebangan dilarang pemerintah, aktivitas di sungai ini mati. Sehingga, Sungai Serkap sudah sangat jarang dilalui, hanya sebagian nelayan yang sampai ke Tasik Besar, karena sulitnya medan yang harus ditempuh,” kenang Bang Imin bercerita sambil mengontrol laju perahu.

Seperti rombongan semula, aku berada di perahu pertama dengan Eko, Priyo dan tentunya Bang Imin yang  banyak bercerita. Setiap ucapan mereka kutuangkan dalam catatan buku kecil.  Tak sadar, dadaku kembali tertampar daun Bakung dan tangan tak luput pula dari goresan daun Rasau.

Priyo yang mulai kelaparan, mulai membuka bekal nasi goreng. Ia duduk di anjungan perahu disela lajunya yang semakin pelan.

Kehabisan air mineral, akhirnya salah satu rombongan nekad minum air sungai gambut yang berwarna agak kecoklatan (Dok. Rosyita)

Pos terkait