Sungai Serkap memberi ketakutan senyap, betapa tidak sungai dikelilingi pohon-pohon menjulang tinggi, sementara waktu terus beringsut malam, kengerian mulai terasa, tidak terdengar suara teman-teman. Semua kutahu menenangkan diri, ditengah ketidakpastian perjalanan bila akan tiba di tempat tujuan. Tanda-tanda Tasik Besar belum kelihatan.
Perjalanan sangat panjang bagi semua, lima orang yang terpilih melanjutkan ekspedisi Ikan Merah, termasuk aku tentunya dan Roni dari Yayasan Mitra Insani. Pukul 16.00 WIB diperkirakan akan tiba di Tasik Besar, melenceng. Dua kilometer yang sering disebut Eko tak kunjung berkurang. Kelelahan dan stres tampak di wajah masing-masing, termasuk dua pemandu warga tempatan yang ternyata belum pernah sampai di Tasik Besar.
Beberapa meter, pemandu selalu turun ke sungai, yang bukan sungai lagi, melepaskan sampah yang membuat mesin mati hingga akhirnya mesin tidak bisa digunakan lagi. Terpaksa menggunakan dayung tapi cuma ada satu dayung. Kamipun mencari kayu untuk menaklukan medan, hingga keringat bercucuran ditengah ketakutan akan datangnya malam.
Medan ekstrim! Ada buaya, ada ular PA yang memiliki racun mematikan, tumbuhan Rasau yang berduri seakan bekerja sama dengan tumbuhan Bakung membuat terowongan panjang hampir separuh perjalanan menyusuri Sungai Serkap. Sangat sulit diterobos, seakan Tasik Besar sebuah tempat keramat, namun tidak ada pilihan lain. Sungai Serkap satu-satunya jalan menuju Tasik Besar.
Tidak ada yang berani bersuara hanya mendayung dan mendayung, hingga tanganpun menjadi dayung. Tidak peduli, lengan tergores Rasau walau sudah terbungkus kaos lengan panjang. Letih dan stres semakin menimpa kami semua. Hingga waktu menunjukkan 19.00 WIB, seluruh area telah berubah menjadi gelap. Kami belum juga melihat tanda yang diberikan Bang Imin, ada alur yang melebar. Namun, sekian perjalanan tak kunjung kami jumpai.
“Serba salah, maju salah, mundur apalagi. Kita teruskan,” ucap Eko setelah sekian lama mendayung. Sementara dibenakku, ada terlintas apa kami tersesat atau ‘disesatkan’. Aku mulai bergidik.
Bayangan ketakutan itu membuat kami semakin laju mendayung, tak melihat kondisi kiri dan kanan, Bagaimana segera tiba di Tasik Besar, hanya tekad itu di benak kami. Hingga tanpa sadar Eko tercebur ke sungai, sementara tiap lima menit Herman, salah satu pemandu harus menyeburkan diri guna membuang sampah di baling-baling mesin.
Tepat pukul 20.00 WIB, gerbang Tasik Besar tampak membuat lelah seakan rontok dan aku bernafas penuh kelegaan. Apalagi di sebelah kanan, tampak bangunan bagan nelayan, bisa segera melepaskan lelah, dan merendahkan tingkat stres. Namun, ketua rombongan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Tasik Besar.
“Saya akui Sungai Serkap ini adalah medan paling berat untuk rawa,” ungkap Nanang (40) yang pernah berkeliling rawa di Kalimantan dan Merauke ini. Ia berkesempatan merekam potensi Sungai Serkap, sekaligus melihat dengan jelas mata seekor buaya ketika terpaksa bermalam sebelum mencapai Tasik Besar.
Keletihan yang memuncak pada level tertinggi bagiku akan direhatkan di gubuk Pak Man, satu-satunya nelayan yang tinggal di Tasik Besar, penghuni dan ‘juru kunci’ Tasik Besar. Tidak terlintas bahwa perjalanan pulang akan melewati rute yang sama. Kenyataan Sungai Serkap adalah jalan satu-satunya untuk pulang mau tidak mau harus kembali dilewati. Suka atau tidak.
Tahniah Kepada rekan- rekan KKP;
Dr Eko Prianto
Dr Reni Puspasari
Priyo Suharsono Sulaiman
Naila Zulfi





