Pukul 09.30 wib, kami bergerak meninggalkan Teluk Meranti, sebuah desa yang dikenal sebagai pusat Gelombang Bono, yaitu fenomena alam akibat adanya pertemuan arus sungai menuju laut dan arus laut yang masuk ke sungai saat air pasang, sehingga menciptakan ombak tinggi, dan peristiwa ini justru dijadikan objek wisata berselancar serta menjadi magnet bagi peselancar dunia untuk menjajal adrenalin mereka menaklukkan gelombang sungai dengan tinggi empat hingga enam meter tersebut.
Tidak lama menyusuri Sungai Kampar, perahu kami berbelok ke arah kiri memasuki Sungai Serkap, satu-satunya sungai yang harus dilewati untuk mencapai Danau besar tempat Ikan Merah yang menjadi objek penelitian bagi tim KKP.
Sebelum perahu berbelok, aku masih sempat mengabadikan jalur menuju Selat Panjang dan Tanjung Balai Karimun yang melewati Selat Malaka dari kejauhan. Kondisi persimpangan ini, pernah membuat Pemerintah Kabupaten Pelalawan mengajukannya sebagai salah satu kawasan perbatasan di Provinsi Riau.
Lima jam berhanyut, kami menemukan kamp nelayan. “Saat ini kita berada di Bagan Bangko, kita berhenti di titik ini dan akan melanjutkan perjalanan besok pagi,” ujar Bang Imin (33), Tekong perahu, demikian sebutan untuk orang yang membawa perahu.
“Kenapa tidak lanjut saja, toh, masih siang,” ujarku. Sejenak Bang Imin menoleh,” demi keamanan,” tegasnya. Akupun tak menyanggah lagi melihat pandangan dan suaranya yang ditekan. Walau dalam hatiku masih penasaran dengan alasannya. Rasa penasaran dengan medan ekstrim terpaksa kusimpan.
Aku mulai membantu memindahkan barang-barang ke bagan, bangunan rumah ditepi sungai yang sangat sederhana, hanya memiliki satu ruangan.





