Jakarta (Outsiders) – Aktivitas Gunung Anak Krakatau yang masih berstatus Level III atau Siaga mendorong Anggota Komisi XII DPR RI Ateng Sutisna mendesak pemerintah memperkuat mitigasi dan kesiapsiagaan bencana. Ia meminta pemerintah memastikan seluruh sistem penanganan bencana siap menghadapi kemungkinan eskalasi, termasuk ancaman tsunami, abu vulkanik, hingga gangguan penerbangan dan pelayaran.
Ateng mengatakan aktivitas Gunung Anak Krakatau hingga 6 September 2026 masih berada pada Level III. Badan Geologi mencatat episode erupsi menerus terjadi sejak Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB, disertai aktivitas menyerupai lava fountain, aliran lava, serta suara gemuruh dan dentuman. Episode tersebut berlangsung sekitar 25 jam dan berakhir Sabtu malam, namun status Siaga tetap diberlakukan.
“Pemerintah tidak boleh kembali hadir terlambat setelah korban berjatuhan. Saatnya membuktikan bahwa negara mampu bertindak pada fase peringatan, bukan hanya pada fase tanggap darurat,” tegas Ateng dalam keterangannya di Jakarta, Senin (7/9/2026).
Menurutnya, dampak aktivitas Anak Krakatau kini tidak hanya dirasakan di sekitar gunung. BMKG pada 6 September mengidentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik yang menjangkau sejumlah wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga sebagian Sumatra. Kondisi tersebut juga berdampak terhadap operasional penerbangan. Karena itu, kesiapsiagaan harus mencakup pemantauan gunung api, mitigasi tsunami, perlindungan kesehatan, keselamatan penerbangan dan pelayaran, serta kesiapan pemerintah daerah.
Ateng meminta pemerintah memperkuat sistem peringatan dini dengan mengintegrasikan tsunami gauge, HF Radar, GNSS, kamera termal, infrasound, citra satelit dan pemodelan cepat. Ia juga mendorong audit terhadap sensor, sirene, radio komunikasi, listrik cadangan, rambu, jalur evakuasi dan titik kumpul di kawasan pesisir Banten dan Lampung. “Jangan ukur kesiapan dari banyaknya rapat atau alat yang pernah dibeli. Ukur dari apakah sirene menyala ketika dibutuhkan, apakah nelayan menerima pesan, apakah warga tahu harus lari ke mana, dan apakah kelompok rentan dapat dievakuasi dalam hitungan menit. Seluruh rantai itu harus diuji sekarang,” katanya.
Meski demikian, Ateng mengingatkan masyarakat tidak perlu panik karena aktivitas erupsi tidak otomatis berarti tsunami akan segera terjadi. Pemantauan BMKG terhadap 20 tsunami gauge di sekitar Selat Sunda hingga Minggu pagi tidak menunjukkan anomali muka laut, sementara analisis HF Radar di Carita dan Tanjung Lesung menunjukkan probabilitas tsunami berada pada kategori rendah saat pengamatan. Ia meminta masyarakat tetap tenang, mematuhi larangan memasuki radius tiga kilometer dari pusat aktivitas Anak Krakatau, serta mengikuti informasi resmi pemerintah dan lembaga terkait.





