Udara Pekanbaru Tidak Sehat, Asap Karhutla Masih Menyelimuti Kota

Ilustrasi: (Foto rekayasa AI ~ Gemini)

Pekanbaru (Outsiders) – Kualitas udara Kota Pekanbaru masih berada pada level tidak sehat, Selasa (8/9/2026). Tiga platform pemantauan kualitas udara, AQICN, IQAir dan BMKG, sama-sama menunjukkan kondisi udara yang perlu diwaspadai masyarakat.

Data AQICN pada pukul 14.00 WIB mencatat indeks kualitas udara Pekanbaru berada di angka 160, yang masuk kategori tidak sehat. Pada rentang tersebut, AQICN menyebut masyarakat secara umum mulai berpotensi mengalami dampak kesehatan akibat polusi udara.

Bacaan Lainnya

Cek Kondisi PM2.5 secara berkala pada link berikut: | AQICNIQAirBMKG |

Sementara itu, pemantauan IQAir pada pukul 13.00 WIB menunjukkan angka yang hampir sama, yakni AQI 161, juga dalam kategori tidak sehat. Polutan utama yang terpantau adalah PM2.5 dengan konsentrasi 70,2 mikrogram per meter kubik (µg/m³).

Angka konsentrasi PM2.5 tersebut juga tercatat dalam pemantauan resmi BMKG. Pada pukul 12.00 WIB, BMKG mencatat PM2.5 Pekanbaru berada di level 70,2 µg/m³ dan menetapkannya dalam kategori Tidak Sehat.

Perbedaan waktu pengukuran tidak mengubah gambaran besarnya. Baik AQICN, IQAir maupun BMKG sama-sama menunjukkan kualitas udara Pekanbaru masih berada pada kondisi tidak sehat.

Kondisi tersebut sejalan dengan pernyataan Wakil Wali Kota Pekanbaru, Markarius Anwar, yang menyebut kabut asap yang menyelimuti kota berasal dari kebakaran lahan di sejumlah daerah sekitar Pekanbaru.

“Kota Pekanbaru satu daerah yang terdampak kabut asap akibat kebakaran lahan, asap ini berasal dari daerah di sekitar kita,” terang Markarius.

Menurutnya, kondisi udara belum membaik karena kebakaran lahan masih terjadi. Pekanbaru juga menerima asap kiriman dari wilayah lain di luar Riau.

“Jadi itu kota terdampak, karena ada juga asap kiriman dari provinsi lain seperti Jambi dan Palembang,” ujarnya.

Data pemantauan udara menunjukkan PM2.5 menjadi perhatian utama. Partikel berukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil ini dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. BMKG sendiri mendefinisikan PM2.5 sebagai partikel udara berukuran lebih kecil atau sama dengan 2,5 mikrometer.

Di AQICN, angka AQI 160 berada pada rentang 151-200, kategori tidak sehat. Pada level ini, setiap orang mulai berpotensi mengalami dampak kesehatan, sementara kelompok sensitif dapat mengalami dampak yang lebih serius.

Markarius mengatakan pemerintah kota masih mewaspadai kondisi tersebut. Menurutnya, cuaca panas turut menjadi salah satu faktor yang membuat kebakaran lahan masih berlangsung.

“Kita menjadi satu kota yang menerima akibat kebakaran lahan, maka kita sampai saat ini masih waspada,” katanya.

Pemerintah Kota Pekanbaru pun mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara belum membaik.

Warga yang harus beraktivitas di luar ruangan juga diminta menggunakan masker sebagai upaya mengurangi paparan polutan.

Kondisi ini menunjukkan persoalan kualitas udara Pekanbaru bukan sekadar kabut yang terlihat secara kasatmata. Data dari tiga pemantau berbeda memperlihatkan konsentrasi polutan berada pada level yang sama-sama perlu diwaspadai, sementara sumber asap dari kebakaran lahan di sekitar wilayah tersebut masih menjadi persoalan.

 

Pos terkait