Jumat Ini! Jalur Temajuk-Malaysia Kembali Beroperasi, Warga Dua Negara Bisa Melintas Lagi

Kalbar (Outsiders) – Setelah lama menjadi salah satu titik perbatasan yang belum beroperasi optimal, jalur Temajuk di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, akan kembali dibuka. Mulai Jumat (21/8/2026), akses menuju Telok Melano, Sarawak, Malaysia, memasuki babak baru dengan reaktivasi Pos Lintas Batas (PLB) Temajuk dan Pos Kawalan Sempadan (PKS) Telok Melano.

Pembukaan kembali jalur ini menjadi kabar penting bagi masyarakat di kedua sisi perbatasan. Mobilitas orang dan barang nantinya dapat dilakukan melalui jalur resmi, sekaligus membuka kembali ruang interaksi masyarakat Indonesia dan Malaysia yang selama ini memiliki kedekatan geografis, sosial, serta budaya.

Bacaan Lainnya

Reaktivasi tersebut dilakukan Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) RI bersama Pemerintah Malaysia. Langkah ini merupakan tindak lanjut kesepakatan Border Crossing Agreement (BCA) Indonesia-Malaysia pada 8 Juni 2023 dan hasil Persidangan Ke-19 Sekretariat Bersama Kelompok Kerja/Jawatan Kuasa Kelompok Sosial Ekonomi Malaysia-Indonesia (Sekber KK/JKK Sosek Malindo) Tahun 2026.

Yang menarik, jalur ini tidak hanya disiapkan untuk kebutuhan keluar-masuk warga. Pemerintah juga membidik efek ekonomi yang lebih besar. Temajuk dan Telok Melano dinilai memiliki potensi untuk saling menguatkan, terutama dalam sektor pariwisata, UMKM, perdagangan sesuai ketentuan, serta aktivitas sosial dan budaya.

Temajuk memiliki potensi wisata alam yang besar, sementara Telok Melano berkembang dengan dukungan infrastruktur dan amenitas pariwisata. Konektivitas resmi kedua kawasan diharapkan membuat wisatawan maupun pelaku ekonomi memiliki akses yang lebih mudah untuk menjangkau kedua wilayah.

Bagi masyarakat perbatasan, keberadaan jalur resmi juga memiliki arti penting. Mobilitas yang sebelumnya terbatas dapat diarahkan melalui mekanisme yang lebih tertib, aman, dan terawasi. Di sisi lain, terbukanya akses berpotensi menciptakan pasar baru bagi pelaku UMKM dan usaha lokal.

BNPP juga melihat Temajuk dalam perspektif yang lebih panjang. Kawasan tersebut diarahkan menjadi kawasan ekonomi berbasis pariwisata sekaligus pusat pelayanan pintu gerbang negara. Artinya, pembangunan perbatasan tidak hanya berbicara mengenai pos pemeriksaan, tetapi juga bagaimana kawasan di sekitarnya tumbuh dan memberikan manfaat ekonomi bagi warga.

Momentum pembukaan kembali jalur tersebut akan dikemas dalam rangkaian kegiatan selama tiga hari. Selain peresmian Gedung PLB Temajuk dan pengoperasian lintas Temajuk-Telok Melano, agenda juga mencakup aksi bersih lingkungan pantai, penanaman pohon bersama, pagelaran budaya kedua negara, serta Expo UMKM.

Pada hari kedua, suasana perbatasan akan semakin ramai dengan Cross Border Fun Run 5 kilometer. Peserta akan diajak melintasi kawasan perbatasan dengan rute yang menyuguhkan panorama Pantai Temajuk. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan senam sehat dan panggung hiburan rakyat.

Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa reaktivasi perbatasan ingin didorong menjadi momentum kebangkitan kawasan, bukan sekadar seremoni pembukaan jalur. Interaksi warga, promosi wisata dan produk lokal menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali aktivitas ekonomi di kawasan perbatasan.

Pengembangan Temajuk juga memiliki landasan kebijakan nasional. Pemerintah mengaitkannya dengan amanat Pasal 361 ayat (7) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah serta arah RPJMN 2025-2029, khususnya Asta Cita ke-2 dan ke-6, yang menempatkan pembangunan kawasan perbatasan sebagai bagian penting dari agenda pembangunan nasional.

Namun, dibukanya kembali akses tersebut juga membawa pekerjaan rumah. Pemerintah harus memastikan pelayanan lintas batas berjalan efektif, pengawasan tetap kuat, serta manfaat ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat lokal. Jangan sampai jalur yang kembali dibuka hanya ramai saat seremoni, tetapi tidak menghasilkan perubahan berarti setelahnya.

Jika konektivitas ini mampu dimanfaatkan dengan baik, Temajuk berpeluang naik kelas. Dari kawasan yang berada di ujung Indonesia, wilayah ini bisa berkembang menjadi pintu masuk wisata, perdagangan, dan interaksi ekonomi dengan Malaysia.

 

Pos terkait