Bermalam di Pulau Penyelundup, jejakkan kaki di Pulau Semakau

Teras belakang rumah Bang Macmod adalah hamparan air laut yang jernih.

Perjalanan kali ini agak berbeda, Aisyah sang sekretaris ngotot ikut. “Tanggalkan sepatu higheel kamu, ganti dengan sendal jepit,” sebutku acuh. Aisyah langsung memelukku sambil berseru girang,”Asyik, ibu baik sekali!”.

Bacaan Lainnya

Ternyata kegirangannya tidak sampai di hadapanku saja, keluar dari ruangan, kudengar Aisyah berteriak, “Abang-abang sekalian, Aisyah kali ini yang akan temani Ibu meliput.” Aku hanya tersenyum mendengar keriuhan di ruangan redaksi.

Aisyah memperlihatkan kesungguhannya, sepanjang perjalanan mulai  dari Pulau Batam, kemudian langsung ke Pulau Belakang Padang, lanjut ke Pulau Labun,  tidak satupun keluar sikap ‘manja’nya padaku. “Kamu hebat,” ujarku spontan. Ia tampak kegirangan mendapat pujianku.

Aisyah asyik memainkan kamera sakunya dalam perjalanan ke Pulau Labun, sementara Bang Machmod tanpak tenang mengemudikan perahunya.

Aku sudah duduk kembali di dermaga pulau yang bersejarah ini, setelah berkeliling mengitarinya beberapa saat. Pandanganku tak luput dari perahu penumpang dan nelayan berjejer disepanjang dermaga. Untuk sampai ke Pulau Belakang Padang hanya membutuhkan 20 menit saja dari Pelabuhan Sekupang, Batam.

Di pelabuhan Sekupang, Batam, kusempatkan berkeliling mengitari dermaga sambil menunggu kebarangkatan ke Pulau Belakang Padang. Seingatku, Batam terdiri dari 329 pulau besar dan kecil. Pulau-pulau yang tersebar pada umumnya merupakan sisa- sisa erosi atau pencetusan dari daratan tersier yang membentang dari semenanjung Malaysia di bagian utara hingga Pulau Moro, Kundur serta Karimun di bagian selatan. Sebelum tergabung di Provinsi Kepulauan  Riau, wilayah ini berinduk ke Provinsi Riau.

Pos terkait