Menurut Agus Dermawan yang kala itu menjabat Direktur Pandayagunaan Pulau-Pulau Kecil, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui humas KKP juga memaparkan data terakhir, Agustus 2012 pulau yang memiliki nama baku dan telah didaftarkan sebanyak 13.466. Untuk pulau yang belum bernama, upaya terus dilakukan melalui Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi (PNRB).
“Untuk tahun 2013, KKP sendiri akan melalukan survey inventarisasi pulau di tujuh provinsi, yaitu Provinsi Sulawesi Tengah, Maluku Utara, Maluku, Kepulauan Riau, Papua, Kalimantan Barat dan sumatera Utara, jjuga untuk database pulau-pulau kecil,” katanya.
Sementara itu, Saibansyah Dardani menguatkan data bahwa belasan pulau memang belum bernama, penulis buku Border Watchdog ini melalui Catatan Jurnalistik juga menyebutkan ada sekitar belasan pulau belum bernama di Perairan Batam.
Malam itu Bang Machmod lebih banyak bercerita tentang kehidupannya sebagai nelayan. “Kehidupan nelayan di sini semakin hari semakin sulit,” tuturnya. Kadang yang tertangkap jaring hanya sampah, bukan ikan.  Perairan Batam sudah banyak pencemaran,” sebutnya.
Pencemaran di Perairan Pulau Batam bukanlah suatu yang baru. Ingatanku balik ke masa pertama aku menginjakkan kaki di Pulau Batam sebagai jurnalis tahun 1999. Liputan ke Pulau Bulan, pulau tempat penangkaran buaya dan babi. Masyarakat pulau terdekat protes limbah dari pemeliharaan khususnya babi. Penangkaran babi di Pulau Bulan ini merupakan mitra dagang dalam penyediaan babi komersial untuk masyarakat Singapura sejak tahun 1988 hingga saat ini.
“Bu, silahkan istirahat. Bukankah besok pagi-pagi kita akan menuju Pulau Semakau,” ujar bang Machmod mengingatkan tujuan utama Majalah Outsiders. Akupun mengangguk, perjalanan dari Pekanbaru hingga menghirup udara malam Pulau Labun cukup melelahkan. Kulihat Aisyah sudah mengantuk, namun meskipun lelah aku masih semangat melihat Bang Machmod menjahit jaring-jaring yang robek sembari bercerita tentang Pulau Labun dengan legenda persinggahan para penyelundup.
Walau tidur lewat tengah malam, terasa tubuh tak lena berlama-lama di kasur. Tampak Aisyah tidak lagi di sampingku, jam ditanganku menunjukkan waktu subuh. Segera kuberanjak, diluar tampak lebih terang. Betul, ternyata matahari terbit lebih awal di pulau ini. Matahari tanpa malu-malu menampakkan wajahnya yang cerah, tersenyum menyapa kami yang takjub di balik batas lautan.
Aku membatin, “Mungkinkah sang mentari bersahabat dengan penyelundup di masa lalu? Sinar yang memancar begitu terang benderang, mungkin menjadi alarm bagi penyelundup untuk segera meningggalkan Pulau Labun”.
Seperti juga aku yang sebentar lagi akan meninggalkan Pulau Labun untuk segera menuju Pulau Semakau. Pulau yang menggemparkan hubungan In donesia dan Singapura, bahwa Pulau Semakau berada di peta Singapura. Benarkah?





