Bermalam di Pulau Penyelundup, jejakkan kaki di Pulau Semakau

Teras belakang rumah Bang Macmod adalah hamparan air laut yang jernih.

Di kota tua Belakang Padang, aku sudah membuat janji dengan Bang Machmod (43) untuk menjemput kami menuju ke Pulau Labun, Provinsi Kepulaua Riau, dimana ia dan keluarganya menetap.

Bacaan Lainnya

Pria berperawakan tinggi dan berkulit gelap tersebut tak lama muncul.  Bang Machmod akhirnya tiba di dermaga dan kulihat ia menambatkan perahunya sebelum menyapaku. “Ayo naik ke perahu, maaf kalau sudah menunggu lama,” ujarnya dan kemudian membantu Ica, demikian aku biasa menyapa Aisyah,  untuk naik ke perahu lebih dulu.

Selama perjalanan, Bang Machmod bercerita berbagai sisi tentang Pulau Labun. Namun karena deru mesin perahu lebih keras dari suaranya, aku tidak dapat menyimak semua ceritanya.

“Matahari di Labun terasa lebih cepat terbit dibandingkan pulau- pulau lain di kawasn Pulau Batam. Inilah salah satu keunikannya,” ujarnya setengah berteriak.

 “Kalau begitu waktu subuhnya lebih cepat, ya, bang?” tanyaku menimpali.

 “Betul,” jawabnya singkat.

Kubisikkan ke telinga Ica,”perjalanan baru akan di mulai, siap-siap, ya”. Kupandangi wajahnya, tampak sumringah tiada ketakutan yang terpancar, ia tersenyum ceria. “Hebat juga, ni,  anak,” ujarku dalam hati sambil kulihat ia menenteng sendal jepitnya saat turun ke perahu tadi.

Menyusuri perairan yang berbatasan dengan Selat Philip, Singapura, rasanya tak ingin segera berlabuh di dermaga. Ada rasa penasaran dan tertarik demi melihat pemandangan kontras bagaikan  terjepit diantara dua kemajuan. Bagi orang pulau, Kota Batam adalah Singapura-nya mereka, sementara negara singa cukup hanya dinikmati melalui gemerlap lampu yang terpancar pada malam hari saja.

Sepanjang perjalanan, mata ini tak lepas dari pulau- pulau yang terlihat tak berpenghuni. Namun, agak janggal ketika aku menunjuk satu pulau dan bertanya nama pulau tersebut kepada Bang Machmod. Ia hanya menggeleng sebagai tanda tak mengetahui namanya. Demikian juga dengan nama puluhan pulau kecil lainnya, aku hanya mendapat jawaban gelengan kepala. Seingatku Bang Machmod sudah hampir 30 tahun wara wiri melintasi perairan yang menghubungkan Selat Philip sebagai jalur pelayaran Internasional Selat Malaka ini.

Fakta ini menunjukkan padaku bahwa hampir sekitar 4038 pulau Indonesia tak bernama juga berada di Perairan Batam. Akankah status pulau tak berpenghuni ini menjadi potensi komplik antar negara? Seperti apa yang terjadi pada Pulau Sipadan dan Ligitan.

Untuk menghindari konflik antara negara, khususnya mengenai kepemilikan pulau, Indonesia pada Agustus 2012 dalam sidang United Nations Grup Of Experts on Geograpphical Names ke X di New York USA, telah mendaftarkan ke PBB sebanyak 13.466 pulau yang telah diberi nama dari 17.504 pulau yang ada di Indonesia.

Pendaftaran tersebut dilakukan oleh tim nasional pembakuan nama rupabumi yang ditetapkan melalui Peraturan Presiden No. 112 tahun 2006.  Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal)  bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Kementerian Dalam Negeri juga menyebutkan angka 13.466 ini bukan merupakan jumlah keseluruhan pulau di Indonesia, tetapi jumlah pulau yang telah dibakukan namanya dan telah didaftarkan.

Pos terkait