Bermalam di Pulau Penyelundup, jejakkan kaki di Pulau Semakau

Teras belakang rumah Bang Macmod adalah hamparan air laut yang jernih.

Begitu kami duduk di kursi bambu yang nyaman, tampak dibalik ramah tamahnya Ramli tersimpan kekakuan. “Beberapa minggu ini, pulau kami sering kedatangan tamu, tokoh-tokoh masyarakat bersama wartawan dan terakhir Wakil Walikota Batam, Pak Rudy. Saat itu, kami malah takut dan menurunkan bendera merah putih sebelum kedatangan beliau,” ungkapnya lugu kala itu.

Bacaan Lainnya
Bersama Keluarga Ramli, warga Semakau

Kegelisahan Ramli berangsur menghilang begitu begitu muncul sang mertua, Asnah (65) istri dari almarhum Pak Pon, suami yang telah berpulang 70 hari lalu. Ia tersenyum ramah dan duduk tepat disampingku. “Apa kabar nak,” sapanya. Seketika kami mengangguk dan membalas senyuman yang dituakan di pulau ini.

Ia tampak bersahaja dan lelah terpancar di wajahnya, namun tidak mengurangi sambutan luar biasa yang kami terima. Ia berkisah awal mereka tinggal di Pulau Semakau. Dulu, mereka digusur dari Pulau Nirup. Kata pemerintah Pulau Nirup dibebaskan untuk dijadikan tempat wisata oleh investor asal Malaysia.

“Penggusuran terjadi sekitar tahun 1995. Namun, hingga kini pulau tersebut masih saja kosong,” luahnya. Semula keluarga Pak Pon bingung mau tinggal di mana, karena uang ganti rugi tak cukup untuk mencari tempat tinggal baru. Pilihan hanya satu, mencari pulau yang tak berpenghuni.

Harapan muncul begitu begitu melihat satu pulau kecil di tengah Perairan Batam. Kotamadya Batam memiliki puluhan pulau-pulau kecil, salah satunya yang kini bernama Pulau Semakau.

Pulau ini hanya ditinggali delapan Kepala Keluarga (KK) dengan 29 jiwa. Semua yang tinggal di pulau ini merupakan satu keluarga. Keluarga Alm. Pak Pon mencari penghidupan dari rezeki laut. Lima anak perempuan mereka sudah menikah dan membangun rumah tangga di Pulau Semakau. Hanya anak sulung, Zainab yang sekarang memilih tinggal di Pulau Pemping, ibukota kecamatan demi keberlangsungan pendidikan anak-anaknya.

Namun, kehidupan mereka terusik ketika media massa, TV maupun media online lokal hingga nasional memberitakan Pulau Semakau di pertengahan Januari 2013. Saat itu merebak isu Pulau Semakau sudah masuk peta Singapura.

Pemberitaan sangat gencar, rasa nasionalisme mencuat ke permukaan dari semua kalangan. Jangan ada lagi pulau yang diklaim oleh negara tetangga, seperti Pulau Simpadan dan Ligitan. Isu kliam Pulau Semakau serupa juga dialami Pulau Jemur di Provinsi Riau, nama yang sama menjadi pemicu perdebatan, Semakau di Singapura dan Pulau Jemur di Malaysia.

**

Kursi panjang dari kayu ini membuatku betah berlama-lama di Pulau Semakau, pohon kelapa tampak berjejer teratur di hadapan masing-masing rumah. Halaman yang begitu indah, ditata oleh keluarga Alm. Pak Pon dan Asnah yang melaksanakan sholat di musalla yang sudah berdiri di pulau ini.

“Datanglah saat laut teduh, ibu akan melihat sunset yang indah dari pulau ini,” undang Ramli melihat ketertegunanku menikmati keindahan Pulau Semakau.

(Bersambung)

 

Pos terkait